Sastra

Di Balik Target yang Tak Pernah Usai

Sebenarnya aku lelah.
Terkadang rasa lelah itu datang tanpa permisi di saat aku sudah rapuh, di saat dunia seolah menutup semua jalan yang kutempuh. Ada waktu-waktu di mana aku hanya ingin duduk di sudut kamar, membiarkan air mata jatuh tanpa harus memberi alasan apa pun. Rasanya seperti semua usaha yang kulakukan tidak pernah cukup… seperti aku selalu tertinggal dari versi diriku yang seharusnya lebih baik.

Aku terlalu terpaku pada target yang aku buat sendiri. Setiap kali aku berhasil mencapai sesuatu, bukannya merasa bangga, aku justru merasa itu belum seberapa. Aku menuntut diriku untuk lebih, lebih, dan lebih lagi. Hingga tanpa kusadari, aku kehilangan makna dari setiap langkah yang kuambil. Aku lupa caranya menikmati proses, lupa caranya tersenyum tulus pada diriku sendiri.

Padahal… aku hanya ingin bahagia.
Aku ingin merasakan rasa lega tanpa harus mengaitkannya dengan pencapaian. Aku ingin tertawa tanpa dihantui pikiran bahwa waktuku terbuang sia-sia. Aku ingin menjalani hari tanpa beban target, tanpa rasa takut gagal.

Mungkin, bahagia bukan tentang seberapa tinggi aku bisa melompat, tapi tentang seberapa tulus aku bisa berdamai dengan diriku sendi

Related posts

Bulan

Ike Mawar Yuni Arifin

Masterpiece yang Retak

Intan Faiqotul laili

Senyum di Gerbong, Sapaan di Desa

Anindya Ghania Safhira

Leave a Comment