Opini

Di Antara Hedonia dan Eudaimonia, Anak Muda Terjebak Ilusi Kebahagiaan

Narasi tentang kebahagiaan kembali menjadi perbincangan hangat di ruang publik. Dalam berbagai media populer, anak muda kerap disuguhi satu pesan yang sama: tujuan hidup haruslah kebahagiaan. Namun, pandangan ini mulai dipertanyakan. Sejumlah pengamat menilai, menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan utama hidup justru berpotensi menjerumuskan generasi muda pada krisis makna.

Dalam kajian filsafat dan psikologi, kebahagiaan tidak tunggal maknanya. Ada hedonia, kebahagiaan yang berorientasi pada kesenangan, kenyamanan, dan kepuasan instan. Hedonia inilah yang banyak dipromosikan media populer—hidup tanpa beban, penuh hiburan, validasi sosial, dan pencapaian cepat. Masalahnya, kebahagiaan jenis ini bersifat sementara dan rapuh.

Ketika hedonia dijadikan tujuan hidup, anak muda rentan merasa gagal hanya karena hidupnya dipenuhi tantangan. Rasa lelah, kegagalan, dan penderitaan dianggap sebagai kesalahan, bukan bagian dari proses. Tak heran, muncul fenomena kecemasan kolektif, kelelahan mental, hingga depresi di kalangan generasi muda—meski secara visual mereka tampak “bahagia”.

Berbeda dengan hedonia, konsep eudaimonia menawarkan makna kebahagiaan yang lebih dalam. Eudaimonia menekankan hidup yang bermakna, bertumbuh, dan berorientasi pada nilai serta kontribusi. Dalam perspektif ini, kebahagiaan bukan tujuan akhir, melainkan efek samping dari hidup yang dijalani dengan kesadaran, tanggung jawab, dan tujuan yang jelas.

Sayangnya, narasi eudaimonia kerap kalah populer. Media sosial lebih gemar menampilkan potongan hidup yang menyenangkan daripada proses panjang yang penuh luka. Anak muda pun tumbuh dengan ekspektasi hidup yang serba ringan, sementara realitas justru menuntut daya tahan, ketekunan, dan kedewasaan berpikir.

Sejumlah akademisi dan pendidik menilai, krisis yang dialami generasi muda hari ini bukan sekadar soal mental, tetapi juga krisis orientasi hidup. Ketika kebahagiaan hedonistik gagal dipenuhi, banyak yang merasa hidupnya tak berarti. Padahal, hidup yang bernilai tidak selalu membuat seseorang bahagia setiap saat, tetapi selalu memberi arah.

Di tengah derasnya arus media populer, diskursus tentang hedonia dan eudaimonia menjadi pengingat penting. Bahwa hidup bukan sekadar soal merasa senang, melainkan soal bagaimana seseorang bertumbuh, berkontribusi, dan meninggalkan jejak nilai. Kebahagiaan sejati mungkin tidak selalu terasa menyenangkan, tetapi selalu bermakna.

Related posts

Setiap Orang Punya Waktunya Sendiri untuk Mekar

Muhammad Hanif Asyari

KRIPIK JAHE PROBOLINGGO POTENSI TRADISIONAL YANG TERUS BERKEMBANG

Novia Putri

Ranu Klakah Permata Biru yang Mulai Kehilangan Cahaya

M. Nabil Rifki

Leave a Comment