Probolinggo, 9 September 2025 Suasana Desa Roto, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo, mendadak meriah pada Selasa siang (9/9). Sebuah layangan bebean berukuran lebih dari tiga meter sukses diterbangkan di halaman masjid desa, menjadi tontonan menarik bagi warga yang berbondong-bondong menyaksikan momen tersebut.
Layangan berwarna putih dengan garis merah, kuning, dan hitam itu dirakit oleh sejumlah pemuda setempat. Proses pembuatannya membutuhkan waktu dan tenaga, mulai dari merakit kerangka, menyusun kertas, hingga mengikat tali utama. Menurut para pemuda, ukuran yang besar memang bertujuan agar layangan lebih stabil saat sudah berada di udara.
“Ini layangan tradisional yang kami buat bersama. Ukurannya memang besar supaya kuat melawan angin, tapi menerbangkannya butuh kerja sama. Kalau tidak kompak, layangan bisa jatuh sebelum mengudara,” kata Faris, salah satu pemuda yang ikut terlibat dalam proses pembuatan.
Tantangan utama justru hadir ketika layangan akan diterbangkan. Beberapa pemuda harus memegang kerangka, sementara yang lain mengatur tarikan tali. Saat angin mulai bertiup cukup kencang, layangan perlahan ditarik hingga akhirnya berhasil lepas landas. Tepuk tangan dan sorakan warga pun pecah saat layangan raksasa itu melesat tinggi ke langit biru.
Bagi warga Desa Roto, momen ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana mempererat kebersamaan. Banyak orang tua yang turut hadir bersama anak-anak mereka, menikmati suasana ramai sekaligus mengingat masa kecil ketika bermain layangan masih menjadi tradisi.
“Sekarang jarang ada anak muda yang main layangan. Kebanyakan sibuk dengan ponsel. Jadi melihat layangan besar terbang seperti ini, rasanya nostalgia sekali. Apalagi dilakukan bersama-sama,” ungkap Pak Hadi, salah satu warga yang hadir.
Peristiwa ini seakan menghidupkan kembali tradisi permainan rakyat yang mulai ditinggalkan. Layangan bukan hanya sekadar permainan, tetapi juga simbol kebersamaan, kreativitas, dan kerja sama warga desa.