
Permainan Sepele, Dampak Tak Remeh
Di balik tawa anak-anak, tersembunyi gangguan serius bagi proses belajar. Saat ini, penghapus atau “pemadam” yang biasa digunakan untuk menghapus tulisan pensil, dimodifikasi secara berbahaya oleh siswa dengan menambahkan paku payung dan staples. Penggabungan beberapa penghapus menjadi satu membuat benda ini berpotensi melukai siswa lainnya.
Siapa yang Mulai?
Fenomena ini menyebar cepat di lingkungan sekolah dasar dan memberikan dampak nyata di kelas. Media sosial diduga menjadi salah satu faktor penyebarannya. Anak-anak kini dengan mudah mengakses tren baru melalui ponsel atau perangkat digital di rumah. Hal ini diperkuat oleh pengakuan Fathir (8), siswa kelas 2 SD, yang mengetahui permainan ini dari konten TikTok.
“Awalnya lihat di TikTok, ternyata setelah sampai di sekolah sudah banyak teman yang membuat modifikasi pemadam ini. Jadi, aku juga nyoba bikin sendiri dan ternyata seru untuk dimainkan,” ujarnya saat ditemui usai pulang sekolah.
Fathir menambahkan, dalam video tersebut dijelaskan cara menggabungkan beberapa penghapus menggunakan paku payung dan staples, agar bisa diputar dan terlihat lebih keren. Cara memainkan permainan ini dengan memutar beberapa pemadam milik teman lainnya dan yang paling lama ialah pemenangnya. Tren yang awalnya terlihat menghibur itu kini berkembang menjadi kebiasaan yang membahayakan.
Guru Mengeluh, Orang Tua Bingung
Guru-guru mengaku kewalahan menghadapi tren permainan “pemadam” yang kerap dimainkan saat jam pelajaran. Penghapus yang dimodifikasi dengan paku payung dan staples dikhawatirkan membahayakan keselamatan siswa lain. Salah satu guru bahkan mengirim pesan teks ke grup WhatsApp wali murid untuk memperingatkan.
“Kami mohon kerja samanya untuk mengecek isi kotak pensil anak. Sudah ada beberapa siswa yang ketahuan membawa paku payung ke sekolah,” tulisnya dalam pesan grup kelas.
Di sisi lain, orang tua juga merasa bingung. Mereka mengaku tidak mengetahui anaknya terlibat karena permainan ini telah menjadi tren yang umum di kalangan siswa.
Solusi? Edukasi dan Empati, Bukan Sekadar Larangan
Larangan membawa benda tajam memang penting untuk keamanan, namun pendekatan represif dinilai bukan solusi jangka panjang. Anak-anak perlu diberikan pemahaman mengenai risiko bermain dengan benda berbahaya, serta diarahkan pada bentuk permainan yang aman dan positif. Sekolah dapat melibatkan guru Bimbingan Konseling (BK), mengadakan diskusi kelas, dan menyusun program literasi keamanan. Orang tua juga perlu terlibat aktif dalam pendampingan anak di rumah. Edukasi yang dikemas dengan empati dinilai lebih efektif dibandingkan sanksi atau hukuman semata.