Fiksi

Cerita Indah di Balik Akuarium

Tanggal 19 September 2025.Alya baru selesai kelas siang, ketika ia berjalan pulang ke kosan ia melihat ada penjual ikan kecil dekat kampus.

Matanya langsung tertuju pada dua cupang cantik di akuarium kaca.Yang satu berwarna biru bercampur merah dan hitam di ekornya, berenang lincah dan penuh gaya. Yang satunya lagi berwarna biru jernih, tenang dan anggun.

Tanpa banyak pikir, Alya membelinya. “Kalian ikut aku pulang, ya. Kita ngekos bareng.”

Sesampainya di kosan alya langsung mengambil dua akuarium kecil yang iya beli dari tiktok minggu lalu dan ia langsung menuangkan air kedalam akuarium serta memberikan hiasan berupa batu dan tanaman hias, sehingga membuat akuarium itu lebih indah, setelah menghias akuariumnya alya memasukan kedua ikan yang iya beli tadi, dan alya memberikan nama kepada kedua ikan tersebut yaitu sellin yang berwarna biru bercampur hitam dan merah pada ekornya dan mellin yang berwarna biru murni, lalu akuarium nya diletakkan di atas meja belajar.

Keesokan paginya, alarm berdering.Alya masih mengantuk, tapi sebelum menyentuh ponselnya, ia melangkah ke akuarium.“Selamat pagi, Selin… Mellin. Sudah siap sarapan?”

Selin langsung heboh, melompat-lompat di permukaan air menunggu pelet.Mellin hanya berenang tenang sambil bergumam,“Pagi juga, Alya. Santai aja, toh makanan nggak bakal kabur.”Alya terkekeh. “

Kalian kayak manusia aja.”

Setiap kali Alya memberi makan pagi, siang, dan malam, Selin selalu paling gesit.Begitu pelet jatuh, ia menyambar cepat.“Ini semua buatku! Aku juara makan tercepat!”Mellin cuma menatap santai.“Silakan duluan, nanti juga aku dapat bagian. Hidup ini soal keseimbangan.”

Kadang Alya menempelkan jari di kaca, memberi kode,“Selin, jangan serakah. Biarin Mellin juga makan.”

Tapi Selin tetap saja gaya, seperti bintang film yang merasa semua kamera tertuju padanya. Hari-hari Alya padat: kuliah, tugas, rapat organisasi.

Tapi setiap malam, sebelum tidur, ia selalu mendekat ke akuarium.“Hari ini capek banget. Tapi lihat kalian, capekku hilang.”

Selin berputar-putar dengan gaya dramatis.Mellin berenang perlahan, membuat suasana damai.Kadang Alya bercanda,

“Kalian tahu nggak? Kalau kalian bisa ngomong, mungkin kalian bakal protes kenapa aku sering pulang malam.”Selin langsung melompat di air, seolah menjawab,“Iya tuh! Kami kangen!”Mellin hanya mengedipkan mata kalem,“Yang penting kamu pulang dengan senyum, Alya.”

Alya tersenyum, mematikan lampu, lalu berbisik,“Selamat malam, Selin… Mellin. Sampai besok.

Sabtu, 21 September 2025, dua hari setelah Selin dan Mellin hadir di kamar kos Alya, ia punya ide istimewa: mengadakan Hari Kehadiran Selin dan Mellin.

Alya bukan main . Ia sampai membuat undangan kecil yang ditulis tangan dengan spidol warna-warni.

Di undangan itu tertulis:> “Dengan hormat, mengundang teman-teman tersayang untuk menghadiri Hari Kehadiran Selin dan Mellin, dua sahabat baruku. Dress code: bebas, asal bawa senyum. Hari Sabtu, pukul 16.00 WIB, di kamar kos Alya.”

Ia membagikan undangan itu ke beberapa teman kampusnya dengan wajah penuh semangat.Namun sore itu, setelah Alya menyiapkan bunga kertas, lilin kecil, bahkan camilan sederhana, ia menunggu… dan menunggu.

Jam 16.00 lewat. Jam 17.00 lewat. Tidak ada yang datang.

Alya akhirnya duduk di depan akuarium sambil manyun.“Selin, Mellin… ternyata cuma kalian yang hadir. Teman-temanku mungkin mengira aku bercanda.

”Selin langsung heboh, muter-muter sambil berkata,“Yaa ampun! Undangan secantik itu kok dianggap bercanda?! Mereka nggak tahu siapa artis utama di sini!”Mellin tetap kalem. “Tenanglah, Selin. Terkadang manusia memang sulit membedakan mana main-main dan mana ketulusan.” Namun, Alya tetap kesal.

Esok harinya, ia bertemu Rani dan Dita di kampus. Dengan wajah cemberut, ia berkata,“Kalian jahat. Aku udah siapin acara buat Selin dan Mellin, bikin undangan segala, tapi nggak ada yang datang.”

Rani sampai kaget. “Lah, Ly… kirain itu bercandaan! Masa ikan dirayain kayak ulang tahun?”Dita ikut menimpali, “Iya, kita kira kamu cuma iseng. Maaf banget, ya.”

Alya merajuk sambil melipat tangan. “Pokoknya aku ngambek. Selin dan Mellin kecewa berat.”

Teman-temannya langsung membujuk.“Ya ampun, jangan gitu dong, Ly. Nanti kita ganti, ya. Minggu depan kita rame-rame main ke kosmu, sekalian kasih hadiah buat Selin dan Mellin. Deal?”

Alya akhirnya tersenyum tipis, meski pura-pura masih kesal.“Ya udah deh. Tapi kalian harus serius. Kalau nggak, aku yang undang lagi, pake undangan resmi berstempel, biar kalian percaya.”Rani dan Dita ngakak. “Deal, Ly! Besok-besok undanganmu harus ada materainya biar makin resmi.”

Dan sesampainya Alya dikosannya ia bercerita kepada sellin dan mellin tentang perbincangannya bersama teman-teman nya.

Selin dari akuarium seakan tertawa, “Hahaha! Kalau gitu aku mau didaftarin ke KUA sekalian!”Mellin cuma geleng-geleng. “Kadang aku heran, siapa sebenarnya yang jadi anak kost: Alya atau kita?”

Hari-hari setelah “Hari Kehadiran Selin dan Mellin” berjalan seperti biasa. Alya tetap kuliah, tetap sibuk dengan tugas, dan tetap… ngobrol panjang lebar dengan dua ikan cupangnya.

Setiap kali Alya bertemu teman kampusnya, ada saja cerita tentang Selin dan Mellin yang ia bawa.“Aku tuh tadi pagi lihat Selin ngambek sama Mellin gara-gara berebut pelet. Lucu banget, sumpah!”

Rani dan Dita yang duduk di sebelahnya cuma saling pandang, lalu tertawa.“Ly, sumpah deh… kalau kita denger kamu cerita, kayak bukan lagi ngomongin ikan, tapi temen kost beneran.”

Alya tersenyum bangga. “Ya memang mereka temen aku. Bahkan lebih setia daripada kalian yang suka bolos main ke kosku.”

Teman-temannya jadi tambah heran.“Serius banget, Ly… kamu kan anak kuliahan, biasanya kalau cerita tuh tentang gebetan, dosen killer, atau skripsi. Lah kamu… tiap hari Selin dan Mellin melulu.”

Alya menanggapi santai sambil memainkan rambutnya.“Biarin. Selin itu cerewet banget, dan Mellin tuh bijak. Aku beruntung punya mereka. Kadang kalau aku sedih, mereka lebih ngerti aku daripada manusia.”

Teman-temannya melongo.“Ya ampun, Ly… kamu kalau ngomong gitu kayak lagi cerita tentang manusia asli, bukan ikan. Jangan-jangan kamu bisa denger mereka jawab juga?”

Alya terkekeh. “Kalau kalian perhatiin baik-baik, mereka itu jawab kok. Pake gaya renang, pake gelembung-gelembung kecil. Kalian aja yang nggak peka.”

Rani langsung geleng-geleng kepala.“Fix, Ly… kalau nanti ada lomba mahasiswi paling sayang ikan, kamu juara satu tanpa saingan.”

Dita menimpali dengan nada bercanda,“Malah jangan-jangan nanti Selin dan Mellin kamu daftarin KKN juga biar bisa ikut laporan kelompok.”

Alya malah tambah semangat. “Eh, ide bagus tuh. Kalau KKN di desa ada sungainya, Selin dan Mellin bisa jadi anggota tim lapangan!”

Teman-temannya ngakak sambil menepuk jidat. Mereka heran setengah mati, tapi juga kagum. Karena Alya benar-benar memperlakukan Selin dan Mellin bukan sekadar ikan, melainkan seperti keluarga kecilnya sendiri.

Dan di kamar kost sederhana itu, Alya tetap setia berbagi cerita, canda, dan rahasia, bukan hanya pada manusia, tapi juga pada dua sahabat mungilnya yang bersisik biru berkilau.

Hari itu suasana kos Alya lebih ramai dari biasanya. Dari jauh terdengar suara langkah kaki dan tawa cewek-cewek kampus. Bukan cuma Rani dan Dita, tapi hampir semua teman perempuannya datang.“Alya… kita dateng yaa!” seru mereka beramai-ramai sambil nyelonong masuk ke kamar kos.

Alya yang lagi menabur pelet di akuarium kaget sekaligus senang.“Eh? Kok rame banget? Ada acara apa?”Rani tertawa, “Acara apa lagi kalau bukan Selin dan Mellin Show!”Dita menambahkan, “Kita penasaran, Ly. Kamu tiap hari cerita ikanmu kayak artis sinetron. Jadi yaudah, kita rame-rame pengen lihat langsung.”

Begitu mereka mendekat ke akuarium, serentak terdengar,“Waaaah, cantik banget warnanya!” “Gila, warnanya Selin kayak pelangi sore!” “Mellin tuh kalem banget, kayak elegan gitu.”

Alya tersenyum lebar. Dengan penuh gaya, ia menunjuk ke akuariumnya.“Selamat datang di kerajaan kecilku. Inilah Selin si cerewet elegan, dan Mellin si tenang bijak.”Seakan ngerti, Selin langsung berenang muter-muter sambil bikin gelembung. Mellin maju perlahan, menatap semua wajah yang menempel di kaca.

Teman-temannya terdiam sebentar, lalu pecah tawa.“Ya ampun, Ly! Ikanmu beneran kayak ngerti kita dateng!” “Aku jadi kayak nonton pertunjukan tari air, sumpah ini lucu banget!”

Alya dengan santai menimpali,“Kan aku bilang juga apa. Mereka itu sahabat, bukan sekadar ikan. Kalau aku cerita ke kalian, memang kayak cerita tentang manusia sungguhan.”

Salah satu temannya nyeletuk,“Pantes aja kamu kelihatan betah di kos sendirian. Ternyata kamu ditemenin dua ‘anak kos’ lain.”Semua pun tertawa.

Suasana kamar kos yang biasanya sepi berubah jadi riuh penuh canda. Teman-temannya sibuk merekam Selin dan Mellin, bahkan ada yang ngajak selfie di depan akuarium.

Di tengah kegaduhan itu, Alya duduk tersenyum puas. Ia merasa lega—akhirnya teman-temannya tidak lagi sekadar heran, tapi benar-benar ikut merasakan kehangatan yang ia dapat dari dua ikan mungilnya.

Di dalam air, Selin berbisik pada Mellin,“Lihat, Mellin! Aku jadi selebriti kampus!”Mellin mengeluarkan gelembung kecil. “Ya, tapi ingat… tetaplah rendah hati, artis kecil. Karena yang paling istimewa adalah punya Alya yang selalu menyayangi kita.”

Dan begitulah, hari itu menjadi penutup manis: Alya, Selin, Mellin, dan para sahabatnya yang akhirnya mengerti. Bahwa kebahagiaan memang bisa hadir dari hal sederhana, bahkan dari dua ekor ikan cupang yang berenang anggun di sebuah akuarium kecil di kamar kos seorang mahasiswi cantik.

Related posts

Cinta Tak Kenal Batas

Dini Dwi Safitri

Di Balik Senyum Laila

Ghinan Nafsi

Jalan Raya Pertama

Nofia Sugist

Leave a Comment