Insight

Cahaya Dalam Langkahku

Sejak aku kecil, sosok Ayah dan Mama selalu menjadi dua cahaya yang tak pernah padam dalam hidupku. Mereka bukan hanya orang tua yang membesarkanku, tetapi juga guru kehidupan yang menanamkan arti kerja keras, keikhlasan, dan kasih sayang yang sesungguhnya. Dari merekalah aku belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari harta, melainkan dari ketulusan hati dan usaha yang tidak pernah mengenal lelah.

Ayahku bekerja sebagai tukang mebel, seorang pengrajin kayu yang setiap hari bergelut dengan serbuk, gergaji, dan aroma khas kayu yang memenuhi ruang bengkelnya. Di balik tangan kasarnya tersimpan jiwa seni yang halus dan sabar. Aku sering memperhatikannya saat ia memahat, menghaluskan, lalu menyatukan potongan-potongan kayu hingga menjadi meja, kursi, atau lemari yang indah. Dari setiap ketukan palu, aku belajar arti ketekunan. Dari setiap karya yang ia hasilkan, aku mengerti bahwa keindahan lahir dari proses panjang yang penuh kesabaran.

Meski pekerjaan Ayah terlihat sederhana, bagiku itu sangat mulia. Panas terik, suara mesin yang berisik, dan serpihan kayu yang melukai tangannya tidak pernah membuatnya mengeluh. Ia selalu pulang dengan senyum, membawa semangat dan doa agar anak-anaknya kelak bisa hidup lebih baik. Ayah sering berkata, “Kayu yang keras saja bisa dibentuk kalau kita sabar dan telaten. Begitu juga hidup—tidak ada yang mustahil kalau kita mau berusaha.” Kata-kata itu tertanam kuat di hatiku.

Sementara itu, Mamaku adalah sosok yang lembut tapi tangguh. Ia selalu setia menemani ayah, menjadi penopang dan penyemangat di setiap langkahnya. Mama bekerja keras mengurus rumah, menjaga kami, dan tidak pernah lupa mendoakan ayah sebelum berangkat kerja. Dalam kelembutannya, tersimpan kekuatan yang luar biasa. Ia mengajarkan padaku bahwa cinta sejati bukan hanya tentang kata, tetapi tentang kesetiaan dan pengorbanan.

Ketika malam tiba, aku sering melihat Ayah masih duduk di ruang tamu sambil memperbaiki peralatan atau menggambar rancangan mebel baru. Mama duduk di sampingnya, menyiapkan kopi, lalu mereka berbincang pelan tentang hari yang telah mereka jalani. Pemandangan sederhana itu selalu membuat hatiku hangat. Aku belajar bahwa cinta dan perjuangan bisa berjalan beriringan, bahwa kebahagiaan sejati lahir dari saling menguatkan dalam keadaan apa pun.

Kini, setiap kali aku menghadapi kesulitan, aku selalu teringat pada Ayah dan Mama. Ketika aku merasa lelah belajar, aku teringat tangan ayah yang penuh luka karena bekerja tanpa henti. Ketika aku ingin menyerah, aku teringat Mama yang tak pernah putus berdoa agar aku menjadi anak yang kuat dan sukses. Mereka berdua adalah alasan aku terus melangkah, meski jalan terasa berat.

Bagiku, orang tuaku bukan sekadar sosok yang melahirkanku, tapi inspirasi hidup yang sesungguhnya. Ayah mengajarkan arti perjuangan dan kejujuran, sementara Mama mengajarkan arti ketulusan dan kesabaran. Mereka adalah dua pilar yang menopang hidupku, dua cahaya yang menuntunku agar tidak tersesat dalam gelapnya kehidupan.

Setiap keberhasilan kecil yang kucapai, aku persembahkan untuk mereka. Sebab aku tahu, di balik senyumku ada peluh dan doa yang mereka titipkan. Aku ingin suatu hari bisa membalas semua pengorbanan itu—bukan dengan harta, tetapi dengan menjadi anak yang membanggakan, anak yang berjalan dengan nilai-nilai yang mereka tanamkan.

Penutup Reflektif:
Kini aku menyadari, bahwa inspirasi terbesar dalam hidupku tidak datang dari tokoh terkenal atau orang hebat di luar sana, melainkan dari kedua orang tuaku sendiri. Dari tangan Ayah yang tergores karena memahat kayu, aku belajar arti perjuangan. Dari doa Mama yang lirih setiap malam, aku belajar arti keikhlasan. Jika kelak aku berhasil meraih impian, itu bukan semata karena kemampuanku, tetapi karena cinta dan pengorbanan mereka yang menjadi bahan bakar di setiap langkahku.
Untuk Ayah dan Mama, Terima kasih telah menjadi cahaya dalam hidupku—pelita yang menuntunku menuju masa depan, dan inspirasi yang tak akan pernah padam dalam setiap hembusan nafasku. Love you more

Related posts

Gregoria Mariska Tunjung, Dari Mimpi Jadi Prestasi

Nabilatus Syakinah Azzahro

Bapak yang Selalu Mengusahakan Keluarga

Ananda Novalia Putri

“Cinta Tanpa Kata: Kontribusi Kakak Kandung dalam Pembentukan Karakter Adik”.

Florent Dwi Hendriansyah

Leave a Comment