Opini

Bumi Bukan Tempat Sampah, Tapi Kita Bertingkah Seolah Iya

Coba lihat sekelilingmu. Di jalan, di sungai, bahkan di tempat wisata yang katanya “alami” — hampir selalu ada satu benda yang ikut jadi “pemandangan”: sampah plastik. Kadang bungkus makanan, kadang botol minuman. Lucunya, sebagian besar orang sudah tahu itu salah, tapi tetap saja dilakukan. Entah karena malas, entah karena sudah terbiasa.

Masalah lingkungan di Indonesia sebenarnya bukan cuma soal sampah. Kita juga menghadapi banjir yang datang tiap musim hujan, udara yang makin sesak dihirup, dan suhu yang terasa makin panas tiap tahunnya. Tapi ironisnya, reaksi banyak orang justru seperti “ah, itu urusan pemerintah”. Padahal, pemerintah juga sering berpikir “masyarakat yang harus sadar dulu”. Akhirnya? Ya, lingkaran setan tak berujung.

Padahal menjaga lingkungan itu nggak harus jadi aktivis yang turun ke jalan atau menanam seribu pohon tiap bulan. Hal kecil kayak bawa botol minum sendiri, buang sampah di tempatnya, atau hemat listrik pun sudah bentuk kepedulian nyata. Tapi karena terasa sepele, sering diabaikan. Kita lebih bangga upload foto di gunung daripada ikut menjaga supaya gunung itu tetap bersih.

Yang bikin miris, gaya hidup serba cepat sekarang justru bikin kita makin jauh dari alam. Semua serba instan, serba plastik, serba “nanti aja deh bersihinnya”. Padahal bumi nggak bisa di-reset kayak ponsel. Sekali rusak, butuh puluhan tahun buat pulih. Dan kalau pun bisa, belum tentu kita masih sempat melihat hasilnya.

Menjaga lingkungan bukan tren, tapi tanggung jawab. Bukan sekadar ikut-ikutan kampanye hijau di media sosial, tapi benar-benar mulai dari diri sendiri. Karena kalau semua orang nunggu orang lain duluan, ya sampai kapan pun bumi ini akan terus kotor, secara harfiah dan moral.

Bumi memang luas, tapi bukan berarti bisa menampung semua sampah dan keserakahan manusia. Kalau kita terus bersikap masa bodoh, nanti jangan kaget kalau suatu hari bumi balik protes, lewat banjir, kekeringan, atau udara yang makin bikin sesak. Jadi sebelum itu terjadi, mari berhenti berpura-pura peduli dan mulai benar-benar peduli. Karena satu hal yang pasti: kita nggak punya planet cadangan.

Related posts

Jajanan Tradisional yang Tak Pernah Lekang oleh Waktu

Alvin nur Romadhoniah

Antara Kesepian atau Ketenangan

Moh Juaeni Hisbullah

Cahaya Lembut yang Menuntun Jiwa

Vera Safera

Leave a Comment