Namaku Raya, 19 tahun, kuliah di Probolinggo. Aku punya pacar, Lukas, cowok yang udah nemenin aku hampir dua tahun. Dia orangnya tenang, setia, dan nggak pernah marah. Tapi akhir-akhir ini, dia sibuk banget kerja sambilan, jadi waktu buat aku mulai berkurang.
Aku ngerti… tapi nggak bisa bohong, kadang rasanya sepi banget. Sampai suatu malam, aku buka Mobile Legends buat ngisi waktu. Masuk match, dan ketemu satu player dengan nickname Masbreww23. Gameplay-nya keren, komunikatif, dan… lucu aja gitu tiap ngomong di voice. Setelah match, dia add aku — dan dari situ semua mulai.
Namanya Raja, 23 tahun, dari Lamongan. Kami awalnya cuma mabar bareng, push rank, tuker-tukeran skin. Tapi lama-lama, kami ngobrol tentang hal lain: kehidupan, kuliah, keluarga, bahkan hal-hal kecil yang nggak pernah aku ceritain ke siapa-siapa.
Dan aku nggak tau gimana, tapi… Raja bikin aku ngerasa dilihat. Padahal jarak kami jauh — Probolinggo ke Lamongan 5 jam perjalanan.
Tapi tiap malam, lewat sinyal dan headset, kami serasa dekat banget. Sampai suatu malam, aku ngomong, “Raja, aku tuh udah punya pacar, loh. Jangan sampe salah paham ya.”
Tapi Raja malah ketawa kecil dan bilang, “Gue tau, Raya. Tapi kalo gue nyaman sama lo, apa itu salah?”.
Aku diem. Karena jawabannya nggak semudah itu. Lukas makin sibuk. Kadang cuma sempat chat singkat: “Jangan tidur malem ya, sayang. ”Tapi aku justru baru mulai ngobrol panjang sama Raja jam segitu. Ironis, ya? Yang jauh malah lebih sering nemenin.
Hubungan kami makin aneh. Nggak ada status, tapi juga nggak bisa dibilang cuma teman. Raja sering bilang hal-hal manis, kayak: “Lo tuh kayak buff buat hari gue, Ray. Tanpa lo, rasanya kalah rank.” Dan meski aku tahu itu cuma kalimat bercanda, hatiku selalu hangat tiap dengarnya.
Aku nggak bisa jawab. Karena aku sendiri bingung — apa yang aku rasain ke Raja itu salah, tapi juga nyata.
Sampai akhirnya, Lukas curiga. Dia liat aku sering online malem-malem, senyum sendiri, dan jarang balas chatnya cepat. Dia nanya, “Kamu lagi deket sama siapa, Raya?”
Suatu malam, Raja bilang jujur, “Gue tau lo sayang sama pacar lo. Tapi gue juga nggak bisa pura-pura nggak sayang sama lo. Kalo jarak ini bisa gue potong, gue bakal dateng ke Probolinggo buat buktiin semuanya.”
Kalimat itu bikin aku nangis — bukan karena seneng, tapi karena takut. Takut kalau semua ini berubah jadi luka buat tiga orang.
Tapi aku juga nggak bisa lepas. Setiap kali Raja bilang, “Mabar yuk, kayak dulu.” Aku langsung login, seolah-olah rasa bersalah bisa hilang kalau kami cuma main game.
Sekarang, udah hampir setengah tahun aku kenal Raja. Kami belum pernah ketemu langsung, tapi rasanya kayak udah kenal seumur hidup. Dan aku masih sama Lukas, tapi hubungannya nggak sehangat dulu.
Sejak saat itu, hubungan kami tetap berjalan — tanpa status, tanpa janji, tapi juga tanpa niat buat berhenti. Kami masih mabar, masih saling sapa tiap pagi, masih saling kirim foto random kayak dua orang yang saling ngerti tapi nggak berani ngomong lebih jauh.
Kadang Raja cerita kalau dia capek kerja, dan aku balas dengan kirim voice note kecil, cuma bilang,
“Istirahat ya, Raja.” Sesederhana itu, tapi aku tahu, bagi kami, perhatian kecil itu lebih dari cukup.
Lukas masih jadi pacarku. Kami masih ketemu, masih jalan bareng. Tapi ada ruang kosong di antara kami yang nggak bisa aku tutup sepenuhnya.
Dan di sisi lain, Raja tetap hadir — tempat bernaung yang muncul di saat aku butuh tenang dan nyaman serta temen curhat.
Aku nggak tau hubungan ini bakal berakhir di mana. Yang aku tau, kami berdua sama-sama sadar kalau “nyaman” bukan selalu berarti “benar.” Tapi kadang, justru hal yang salah itu yang paling sulit dilepaskan.
Aneh ya, gimana seseorang yang nggak pernah kita temui bisa terasa sedekat itu?. Kadang aku lupa kalau dia tinggal kilometer jauhnya di Lamongan, dan aku masih punya Lukas di Probolinggo.
Tiap malam, Raja selalu jadi “teman tetap” di panggilan telfon. Kadang cuma diam bareng, kadang bahas hal-hal random kayak makanan favorit atau game baru.
Tapi di balik obrolan santai itu, ada sesuatu yang tumbuh tanpa kami sadari — sesuatu yang pelan-pelan jadi candu.
“Lo sadar nggak sih, Ray?”
“Apa?”
“Kita tuh ngobrol tiap hari, tapi nggak pernah kehabisan topik.”
“Mungkin karena lo bawel, Raja.”
“Atau mungkin karena gue udah nyaman.”
Aku pura-pura nggak denger waktu dia bilang itu, padahal jantungku udah kayak abis push rank lima kali kalah menang.
Lukas masih sama seperti dulu — baik, sabar, tapi sibuk. Kami jarang jalan bareng, dan obrolan kami mulai terasa formal. Kayak dua orang yang masih pacaran karena terbiasa, bukan karena saling nunggu.
Suatu sore, aku lagi di taman kampus. Angin lembut, tapi pikiranku berat. HP-ku bunyi. Notifikasi dari Raja.
~Raja♡: “Raya, kalo suatu hari gue main ke Probolinggo, lo bakal mau ketemu nggak?”
Aku diem lama sebelum jawab.
~ Raya: “Entahlah, Ka. Takutnya kalo ketemu, semuanya jadi bener-bener nyata.”
Dia kirim emoji senyum, tapi aku tahu dia juga ngerasain hal yang sama — takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum sepenuhnya dimiliki.
Malamnya, kami tetap mabar seperti biasa.Tapi obrolan malam itu beda — lebih pelan, lebih jujur.Raja cerita tentang keluarganya, tentang kenapa dia jarang terbuka ke orang lain. Aku juga cerita tentang Lukas, tentang rasa bersalah yang mulai numpuk setiap aku senyum ke layar HP. Hening sebentar.
Lalu Raja bilang,“Gue nggak minta lo milih, Raya. Gue cuma mau lo tau, gue beneran sayang. Walaupun gue sadar, gue cuma suara di balik sinyal.”
Kalimat itu nancep. Dalam banget. Aku nggak jawab. Cuma diam, tapi air mataku turun pelan. Bukan karena sedih, tapi karena bingung — kenapa sesuatu yang salah bisa terasa sehangat itu?.
Sejak malam itu, kami nggak pernah ngomongin perasaan lagi.Tapi entah kenapa, justru di diam itu, semuanya terasa lebih nyata. Raja tetap jadi orang pertama yang nyapa “udah makan belum?” dan orang terakhir yang bilang “selamat tidur.”Dan aku tetap pura-pura nggak nunggu notifikasi darinya.
Di satu sisi, aku masih pacar Lukas. Di sisi lain, aku udah terlalu nyaman sama Raja. Hubungan kami kayak dua garis sejajar — nggak akan pernah ketemu, tapi terus jalan bareng. Mungkin suatu hari, salah satu dari kami bakal berhenti. Tapi malam ini, aku masih di sini — dengan headset di telinga, suara Raja di seberang, dan hati yang entah milik siapa.
“Lo masih di situ, Raya?”
“Masih, Raja.”
“Jangan tidur dulu ya.”
“Oke… tapi jangan lama-lama, besok aku kuliah pagi.”
“Tenang, gue nggak akan pergi. Belum sekarang.”
Dan aku tersenyum kecil. Karena malam itu, keduanya — cinta dan dosa — terasa sama-sama indah.