etika keluarga berkumpul di ruang tamu, suasana tak lagi seramai dulu. Tak ada tawa yang bersahutan, tak ada cerita yang mengalir.
Semua sibuk dengan dunianya sendiri menatap layar kecil di tangan masing-masing. Anak-anak tersenyum, tapi bukan pada orang tua atau saudaranya, melainkan pada sesuatu yang hanya mereka lihat di layar.
Fenomena ini menjadi cermin nyata bahwa kecanduan gawai bukan sekadar kebiasaan baru, melainkan tanda memudarnya interaksi sosial anak di era modern. Saya berpendapat bahwa jika dibiarkan, kecanduan gawai akan melahirkan generasi yang pandai bermain jari, tetapi gagap berinteraksi.

Pertama, gawai kini menjadi “penenang instan” bagi anak-anak. Banyak orang tua yang tanpa sadar menyerahkan ponsel agar anak tidak rewel, tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjangnya. Survei Kominfo tahun 2023 menunjukkan bahwa 68% anak usia 7–12 tahun menggunakan gawai lebih dari tiga jam per hari tanpa pengawasan orang tua. Akibatnya, anak terbiasa mencari hiburan dari layar, bukan dari lingkungan sekitar.
Kedua, interaksi sosial anak perlahan memudar. Mereka lebih nyaman berbicara lewat pesan teks daripada tatap muka. Dalam penelitian Universitas Indonesia (2022), anak yang bermain gawai lebih dari empat jam sehari mengalami penurunan kemampuan komunikasi langsung hingga 30%.
Ini artinya, mereka bisa mengetik “haha” di chat, tapi sulit tertawa tulus di dunia nyata.
Ketiga, minimnya literasi digital di sekolah memperparah masalah ini. Pendidikan kita lebih sering mengajarkan cara menggunakan teknologi, bukan cara mengendalikan diri saat menggunakannya. Padahal, kemampuan membatasi diri adalah bentuk kecerdasan sosial yang tak kalah penting dari kecerdasan akademik.
Teknologi seharusnya menjadi jembatan antar manusia, bukan tembok yang memisahkan.
Orang tua perlu kembali menghidupkan momen kebersamaan tanpa gawai, sekolah perlu menanamkan etika digital, dan anak-anak perlu belajar bahwa dunia nyata lebih luas dari layar.
Karena sejatinya, tidak ada notifikasi yang seindah suara tawa keluarga saat benar-benar bersama.