Aku selalu percaya, kebaikan akan menemukan jalannya sendiri. Aku berusaha menjadi seseorang yang tulus, yang mencintai tanpa banyak meminta. Namun hidup rupanya punya cara lain untuk mengajariku tentang makna cinta — bukan lewat kebahagiaan, tapi lewat luka yang pelan-pelan menguatkan.
Aku pernah jatuh cinta dua kali. Dua kisah yang aku rawat seperti benih dalam hati yang penuh harap. Tapi dua kali pula cinta itu layu sebelum sempat berbunga. Satu menolak dengan lembut, satu lagi pergi tanpa alasan. Aku hanya bisa menatap bayangan sendiri dan bertanya: “Apakah ketulusan tidak cukup untuk dicintai?”
Waktu berjalan, dan luka itu perlahan belajar berbicara. Aku mulai mengerti, bahwa tidak semua yang kita perjuangkan harus dimiliki. Ada cinta yang datang hanya untuk mengajarkan arti keikhlasan, ada perasaan yang hadir hanya untuk menunjukkan bahwa hati ini masih hidup.
Kini aku tidak lagi menunggu siapa pun. Aku memilih berdamai dengan kenyataan, sebagaimana laut yang menerima setiap ombak tanpa bertanya dari mana datangnya. Aku tetap menjadi diriku — seseorang yang mungkin pernah ditolak, tapi tidak pernah berhenti mencintai hidup dengan cara yang lembut.
Karena pada akhirnya, cinta yang paling sejati bukan tentang memiliki seseorang, melainkan tentang berani menerima bahwa tidak semua cinta harus pulang.