FantasiFiksiRomansa

Act of money karya Dinda Delvira

Tokoh utama perempuan adalah Hanindhiya Hazel, seorang siswi pintar yang berasal dari keluarga sederhana. Ia dikenal mandiri, rajin, dan berprestasi.
Sementara tokoh utama laki-laki adalah Kalandra Garendra Raymond, anak dari keluarga konglomerat. Dari luar hidupnya terlihat sempurna: tampan, kaya, populer, dan bisa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Namun sebenarnya, Kalandra hidup di bawah tekanan keluarganya dan tidak memiliki kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.

Pertemuan pertama mereka dimulai dengan cara yang tidak menyenangkan. Kalandra yang terkenal cuek dan seenaknya justru tertarik pada Hazel setelah gadis itu membantunya. Sejak saat itu, Kalandra terus mencari perhatian Hazel.

Di sekolah, Hazel bahkan dipindahkan ke kelas yang dipenuhi siswa bermasalah. Guru kemudian memintanya membantu Kalandra belajar agar nilainya membaik. Awalnya Hazel sangat tidak menyukai Kalandra karena sikapnya yang arogan dan kebiasaannya menyelesaikan segala sesuatu dengan uang.


Yang unik dari Kalandra adalah cara ia menunjukkan rasa sayangnya. Kalau kebanyakan orang punya love language seperti kata-kata atau sentuhan, Kalandra punya “love language” yang disebut act of money. Ia sering menyelesaikan masalah dengan uang atau hadiah yang sangat mahal. Bahkan ada adegan ketika Hazel hanya menagih uang kas sekolah, tetapi Kalandra malah mentransfer uang dalam jumlah yang sangat besar hingga membuat Hazel syok.

Awalnya Hazel merasa kesal karena menganggap Kalandra sombong dan selalu menggunakan uang untuk menyelesaikan segalanya. Namun semakin lama mereka bersama, Hazel mulai melihat sisi lain Kalandra. Di balik sikapnya yang usil dan keras kepala, Kalandra sebenarnya perhatian, rela berkorban, dan sangat tulus mencintai Hazel.
Di sisi lain, Kalandra juga berubah menjadi pribadi yang lebih baik berkat Hazel. Ia mulai rajin sekolah, lebih bertanggung jawab, dan belajar bahwa kasih sayang tidak selalu harus ditunjukkan dengan materi.

Semakin sering bersama, Hazel mulai mengetahui bahwa di balik kekayaan Kalandra, ia sebenarnya hidup di bawah tekanan keluarganya. Semua keputusan hidupnya diatur oleh sang ayah sehingga ia merasa tidak benar-benar bebas.
Sebaliknya, Hazel mengajarkan Kalandra arti kerja keras, kesederhanaan, dan ketulusan. Perlahan Kalandra berubah menjadi lebih rajin datang ke sekolah, lebih peduli terhadap orang lain, dan mulai menunjukkan kasih sayangnya bukan hanya dengan uang, tetapi juga perhatian dan waktu. Ciri khasnya tetap ada, yaitu sering berkata, “Cek rekening, Zel.” Kalimat itu menjadi simbol “love language” Kalandra yang selalu ingin membahagiakan Hazel dengan materi.

Bagian akhir Hubungan mereka tidak berjalan mulus. Perbedaan status sosial, tekanan keluarga Kalandra, serta berbagai masalah lain membuat mereka harus menghadapi banyak ujian, bahkan sempat terpisah oleh jarak. Namun keduanya belajar bahwa cinta bukan hanya tentang hadiah mahal, melainkan tentang pengorbanan, kepercayaan, dan saling mendukung impian masing-masing. Kisah mereka kemudian berlanjut dalam novel berikutnya, The Act of Kalandra, dan dilanjutkan lagi dalam Act of (Zero) Money.

Related posts

title : i’m not antagonis , dikaryai oleh Palupiii / Endang Palupi

nazil a.f

The Tokyo Zodiac Murders Karya Soji Shimada

Narator

Manusia dan badainya-karya Syahid Muhammad

Moh Kevin Febriyan

Leave a Comment

error: Content is protected !!