Cerpen Robohnya Surau Kami menurut saya merupakan salah satu cerita yang paling “mengena” jika dibaca dengan perlahan dan dipahami secara mendalam. Sekilas, cerpen ini tampak sederhana, hanya berkisah tentang sebuah surau tua dan seorang kakek penjaganya. Namun, di balik kesederhanaan tersebut, terdapat pesan yang cukup dalam dan menyinggung mengenai cara manusia memahami agama, kehidupan, dan tanggung jawab sosial.Cerita ini diawali dengan tokoh “aku” yang mendengarkan kisah dari seorang kakek penjaga surau. Kakek tersebut menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk beribadah, seperti salat, mengaji, dan menjaga surau. Ia sangat meyakini bahwa kehidupannya sudah benar karena sepenuhnya difokuskan untuk Tuhan. Namun, permasalahannya, ia tidak pernah benar-benar terlibat dalam kehidupan duniawi: tidak bekerja, tidak membangun kehidupan sosial, bahkan keluarganya hidup dalam kondisi yang kurang sejahtera.Konflik utama muncul ketika kakek tersebut meninggal dunia, dan dalam cerita digambarkan bahwa ia tidak memperoleh tempat yang diharapkan di akhirat karena kehidupannya dianggap tidak seimbang. Pada bagian ini, pesan utama cerpen mulai terlihat, yaitu kritik terhadap pemahaman ibadah yang hanya bersifat ritual tanpa diimbangi dengan tanggung jawab sosial. Hal ini semakin ditekankan melalui tokoh tukang sate yang justru digambarkan lebih “berhasil” karena ia bekerja, menghidupi keluarganya, dan memberikan manfaat bagi orang lain.Kekuatan cerpen ini terletak pada cara A.A. Navis menyampaikan kritiknya. Ia tidak menyampaikan penilaian secara langsung, melainkan melalui ironi yang membuat pembaca berpikir dan merefleksikan sendiri maknanya. Pembaca diajak untuk mempertanyakan apakah ibadah semata sudah cukup tanpa diiringi kontribusi nyata dalam kehidupan sosial, atau justru agama seharusnya dijalankan secara seimbang antara hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan sesama manusia.Jika dilihat dari perspektif mahasiswa, cerpen ini bukan merupakan kritik terhadap agama itu sendiri, melainkan lebih kepada cara beragama yang terlalu sempit dan tidak utuh. Simbol surau yang roboh pada akhir cerita juga dapat dimaknai sebagai representasi bahwa ketika nilai-nilai kehidupan tidak dijalankan secara seimbang, maka yang tersisa hanyalah bentuk kosong tanpa makna.Dengan demikian, kesan akhir dari cerpen ini adalah seperti “tamparan halus” yang mengajak pembaca untuk memikirkan kembali keseimbangan antara ibadah dan kehidupan sosial sehari-hari. Cerita ini tidak bersifat menggurui, tetapi justru meninggalkan ruang refleksi yang cukup dalam setelah selesai dibaca.