BukuFiksi

Rindu karya Tere Liye

berlatar tahun 1938 dan mengisahkan perjalanan kapal haji Blitar Holland dari Makassar menuju Jeddah. Di atas kapal tersebut berkumpul berbagai tokoh dengan latar belakang dan persoalan hidup yang berbeda. Perjalanan panjang ini bukan hanya perjalanan menuju Tanah Suci, tetapi juga perjalanan batin untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan hidup yang selama ini mereka simpan.

Salah satu tokoh utama adalah Bonda Upe, seorang guru mengaji yang menyimpan masa lalu kelam. Saat masih muda, ia menjadi korban perdagangan manusia dan dipaksa menjalani kehidupan yang penuh penderitaan. Rasa malu dan ketakutan terhadap masa lalunya membuatnya selalu menutup diri. Melalui nasihat Gurutta Ahmad Karaeng, ia belajar menerima dirinya, berdamai dengan kenangan pahit, dan percaya bahwa rahmat Allah lebih luas daripada dosa manusia.

Tokoh lain, Daeng Andipati, membawa luka akibat perlakuan ayahnya yang kasar semasa hidup. Kebencian yang selama bertahun-tahun ia simpan membuat hatinya tidak tenang. Gurutta mengajarkannya bahwa memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan, melainkan membebaskan diri dari beban kebencian agar dapat memperoleh kedamaian dalam hidup.

Di tengah perjalanan, Gurutta juga mengenang kisah cintanya dengan Cut Keumala yang tidak pernah sampai ke pelaminan karena tragedi perang. Pengalaman itu membuatnya memahami arti kehilangan dan keteguhan hati. Sementara itu, Ambo Uleng, seorang pelaut Bugis, berusaha melupakan cinta masa lalunya yang terhalang oleh perjodohan. Dari Gurutta, ia belajar bahwa cinta sejati terkadang berarti merelakan dan mengikhlaskan.

Kisah lain datang dari Mbah Kakung Slamet yang kehilangan istrinya saat perjalanan menuju Tanah Suci. Kesedihan mendalam membuatnya mempertanyakan takdir yang harus ia terima. Melalui bimbingan Gurutta, ia mulai memahami bahwa menerima takdir dengan lapang dada adalah bagian dari keimanan dan bahwa setiap ketentuan Allah memiliki hikmah yang tidak selalu dapat dipahami manusia.

Konflik memuncak ketika Gurutta ditangkap karena tulisannya yang dianggap berbahaya oleh pemerintah kolonial. Tidak lama kemudian, kapal juga diserang perompak di perairan Somalia. Berkat keberanian para awak kapal dan penumpang, ancaman tersebut berhasil diatasi tanpa menimbulkan banyak korban. Peristiwa ini menjadi ujian besar yang semakin mempererat hubungan antarpenumpang.

Pada akhirnya, para tokoh berhasil menemukan jawaban atas pertanyaan hidup mereka masing-masing. Mereka tiba di Jeddah dengan hati yang lebih tenang dan lapang. Novel ini menyampaikan pesan tentang penerimaan, keikhlasan, pengampunan, cinta, dan harapan, sekaligus mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki perjalanan batin yang harus ditempuh untuk menemukan kedamaian sejati.

Related posts

kisah dibalik bumi manusia karya Agus wahyudi

Lukman hanif

Di Balik Senyum Laila

Ghinan Nafsi

Lumpu – Tere Liye

halo.narasimu

Leave a Comment

error: Content is protected !!