Insight

Amal Tidak Cukup Diam, Ia Harus Meninggalkan Jejak (Refleksi Pemikiran KH. Moh. Hasan Naufal)

Ada kalimat yang sering terdengar saleh, tetapi jika direnungkan lebih dalam, justru berpotensi melahirkan kemalasan intelektual: “Biarlah amal saya dicatat Allah, manusia tidak perlu tahu.” Kalimat ini kerap dijadikan alasan untuk berjalan mengikuti arus hidup, tanpa upaya menciptakan perubahan—terutama dalam ranah intelektualitas dan pemikiran.

Allah sendiri menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa yang dicatat bukan hanya amal, tetapi juga jejak yang ditinggalkan manusia:

{ إِنَّا نَحۡنُ نُحۡیِ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَنَكۡتُبُ مَا قَدَّمُوا۟ وَءَاثَـٰرَهُمۡۚ وَكُلَّ شَیۡءٍ أَحۡصَیۡنَـٰهُ فِیۤ إِمَامࣲ مُّبِینࣲ }

“Dan Kami mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.”
(QS. Yasin: 12)

Kata atsar (bekas-bekas) dalam ayat ini memiliki makna yang luas. Ia mencakup sikap, ucapan, gagasan, karya, bahkan pengaruh yang terus hidup setelah seseorang tiada. Menariknya, Allah mengaitkan semua itu dengan kitab yang jelas—sebuah metafora tentang pencatatan, keterbacaan, dan keberlanjutan makna.

Dengan kata lain, Islam tidak mengajarkan kesalehan yang sunyi dari pengaruh. Amal tidak berhenti pada niat baik dan perbuatan personal, tetapi menemukan kesempurnaannya ketika meninggalkan jejak yang dapat dibaca, dipelajari, dan diwarisi.

Di titik inilah tulisan menjadi penting.

Tulisan adalah bentuk paling konkret dari atsar intelektual. Ia menjadi bukti bahwa manusia tidak sekadar hidup, tetapi berpikir. Tidak hanya beriman, tetapi juga mengolah iman itu dengan akal. Sejarah peradaban Islam pun tidak dibangun oleh orang-orang yang memilih diam, melainkan oleh mereka yang menuangkan pergulatan batin, wahyu, dan nalar ke dalam karya yang melampaui zamannya.

Di era yang serba proof demanding seperti hari ini, niat baik saja tidak cukup. Dunia menuntut bukti, rekam jejak, dan warisan pemikiran. Tulisan—dalam bentuk apa pun—menjadi jembatan antara gagasan dan perubahan. Entah itu menulis tentang pengalaman diri, atau merawat pikiran orang lain yang beririsan dengan kegelisahan batin kita dalam mengharmonikan wahyu dan akal.

Warisan inilah yang kelak dicari oleh anak cucu kita. Bukan sekadar kisah bahwa kita orang baik, tetapi bukti bahwa kita pernah berusaha memahami zaman, meresponsnya dengan akal sehat, dan meninggalkan jejak kebaikan yang bisa diteruskan.

Hal ini pula selaras dengan sabda Nabi Muhammad SAW saat ditanya siapakah orang yang paling baik? Beliau menjawab:


من طال عمره و حسن عمله .

Orang yang baik adalah orang yang panjang umurnya dan baik kelakuannya.
(HR. Imam Tirmidzi)

Maka, diam atas nama keikhlasan tidak selalu bermakna mulia. Bisa jadi, ia justru mengubur potensi atsar yang seharusnya hidup dan memberi makna bagi generasi setelah kita.

Karena pada akhirnya, amal yang paling panjang usianya adalah amal yang meninggalkan jejak.

Related posts

BIOGRAFI DAN KEPRIBADIAN KIAI.HAJI MASYKUR

Muhammad Mauluddin

Najwa Shihab”Suara Kebenaran yang Tak Pernah Padam”

Jamilatuz Zahro

Gaya Hidup Hemat ala Anak Pesantren

Dewi afifah Zahro

Leave a Comment