Opini

Ketan Kratok Probolinggo: Warisan Rasa dengan Ciri Khas yang Tak Tergantikan

Probolinggo, Jawa Timur — Ketan kratok, jajanan tradisional berbahan dasar ketan dan biji kratok, menjadi salah satu kuliner khas kabupaten probolinggo yang dinilai berpotensi masuk dalam daftar produk indikasi geografis (IG). Cita rasa gurih dan manis dari ketan kratok, ditambah tradisi penyajiannya dalam berbagai acara adat, menjadian makanan ini memiliki nilai budaya sekaligus ekonomi bagi masyarakat lokal.

Ketan kratok merupakan hidangan yang dibuat dari beras ketan yang dimasak menggunakan santan dan gula merah hingga bertekstur pulen. Setelah matang, ketan dicampurkan dengan biji keratok — jenis kacang- kacangan kecil yang memiliki rasa gurih dan manis alami. Penyajiannya biasanya dilengkapi parutan kelapa/ siraman gula merah cair. Kombinasi rasa dan aroma khas gula merah menjadikan ketan kratok sebagai salah satu camilan favorit masyarakat Probolinggo sejak dulu.

Asal- usul ketan kratok tidak tercatat secara pasti, tetapi sejumlah teori menyebutkan bahwa makanan ini memiliki huhungan dengan kuliner Jawa Tengah. Kesamaan bahan dan Teknik dengan jenang candil atau jenang grendul menjadi salah satu alasan munculnya teori tersebut. Meskipun demikian, ketan kratok telah begitu melekat dalam tradisi masyarakat Proboliggo dan berkembang menjadi identitas kuliner yang kuat dibeberapa desa.

Di desa Sumberpoh, kecamatan Maron, ketan kratok masih diproduksi oleh para pelaku UMKM dengan cara yang mempertahankan resep turun-temurun. Proses memasaknya Sebagian besar dilakukan secara manual, mulai dari merendam ketan hingga merebus gula merah dan mengolah biji kratok. Menurut para penjual, penggunaan bahan lokal seperti kelapa, gula merah, dan biji keratok hasil kebun sekitar — menciptakan cita rasa yang berbeda dari daerah lain.

Salah satu penjual yang sudah bertahun -tahun memproduksi dan menjual berbagai macam olahan ketan, termasuk ketan kratok, adalah ibu Rasat, warga desa Sumberpoh. Ia menjelaskan bahwa rasa khas ketan kratok berasal dari penggunaan santan yang segar serta gula merah dari pengrajin lokal.

‘‘Ketan kratok ini selalu dicari pembeli, terutama kalau ada acara besar di desa. Bahannya semua dari sini, jadi rasanya khas dan lebih legit,’’ ujar ibu Rasat saat ditemui di warungnya.

Menurut data UMKM kabupaten Probolinggo tahun 2024, terdapat lebih dari 250 usaha yang bergerak dibidang kuliner tradisional, termasuk penjual ketan dan olahan berbahan gula merah. Ketan kratok menjadi salah satu jajanan yang memberi penghasilan harian bagi pedagang pasar maupun pembuat makanan rumahan, terutama diwilayah pedesaan.

Selain menjadi camilan sehari-hari, ketan kratok juga memilliki peran penting dalam kegiatan adat dan keagamaan. Makanan ini sering disajikan dalam acara pernikahan, kelahiran, khitanan, hingga selamatan desa. Di beberapa daerah, ketan kratok diyakini mampu menambah energi karna campuran ketan dan biji kratok yang kaya karbohidrat, sehingga kerap dijadikan hidangan pembuka dalam rangkaian ritual tradisional.

Potensi ketan kratok, untuk dijadikan sebagai produk indikasi geografis semakin di perkuat oleh keunikan bahan baku dan teknik produksi. Bahan lokal Probolinggo— terutama biji kratok, kelapa, serta gula merah menghasilkan karakter rasa yang sulit ditiru daerah lain. Selain itu, proses pembuatan yang masih mengandalkan cara tradisional turut mempertahankan identitas autentik kuliner tersebut.

Ke depan, pengembangan standar produksi, pendataan sentra UMKM, serta promosi produk kuliner tradisional menjadi langkah penting agar ketan kratok dapat memenuhi syarat IG. Dukungan pemerintah daerah dan pelatihan keamanan pangan diharapkan mampu membantu pelaku UMKM mempertahankan kualitas sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk ini.

Bagi masyarakat Probolinggo, ketan kratok bukan hanya makanan, tetapi bagian dari warisan budaya yang menghubungkan tradisi masa lalu dengan kehidupan saat ini. Jika upaya pembenahan identitas kuliner terus dilakukan, ketan kratok memiliki peluang besar menjadi produk unggulan yang membawa nama kabupaten Probolinggo di tingkat nasional.

Sumber: BPS Kabupaten Probolinggo; Dinas Perindustrian Probolinggo; Wawancara dengan Ibu Rasat, pelaku UMKM desa Sumberpoh.

Related posts

Jejak Cahaya dari Seorang Guru yang Tak Pernah Lelah Menerangi

Novia Putri

K-Popers Indonesia Menggerakkan Industri Kreatif

Dini Dwi Safitri

Ranu Klakah Permata Biru yang Mulai Kehilangan Cahaya

M. Nabil Rifki

Leave a Comment

error: Content is protected !!