Di sebuah sekolah menengah yang tampak biasa—gedung cat krem, halaman cukup luas, dan deretan kelas yang ramai pada pagi hari—seorang anak berjalan menunduk setiap kali lonceng istirahat berbunyi. Namanya Rafi, kelas VIII. Di atas kertas, ia tercatat sebagai siswa dengan prestasi cukup stabil, tidak nakal, juga bukan tipe pembuat masalah. Namun di balik itu, ada sesuatu yang lama ia sembunyikan dari guru, teman-teman, bahkan orang tuanya.
Rafi sedang menjadi korban bullying.
Cerita ini bukan satu-satunya. Di banyak sekolah, bullying tidak selalu hadir dalam bentuk pukulan atau dorongan. Seringkali ia tersembunyi dalam bentuk yang lebih halus: ejekan yang dianggap bercanda, pengucilan yang disebut “aturan pergaulan”, dan komentar-komentar ringan yang sesungguhnya mengikis kepercayaan diri seorang anak sedikit demi sedikit.
“Kadang aku takut ke sekolah,” ujar Rafi lirih kepada konselor sekolah suatu hari. “Mereka bilang aku lebay, padahal aku cuma diam.”
Di era ketika sekolah gencar mengampanyekan disiplin dan prestasi, isu bullying justru kerap luput dari perhatian. Beberapa guru menganggapnya dinamika biasa antar-remaja. Sebagian orang tua mengira itu proses pendewasaan. Namun bagi korban, setiap hari terasa seperti medan tempur: berangkat dengan ketakutan, pulang dengan rasa kalah.
Kasus Rafi akhirnya terungkap setelah ia mulai menarik diri dari kelas, sering sakit kepala, dan prestasinya menurun drastis. Guru BK kemudian menelusuri pola interaksi di kelas, mencermati percakapan antar-siswa, dan menemukan bahwa ada kelompok kecil yang secara konsisten mengolok-olok Rafi—dari cara ia berbicara, cara berpakaian, bahkan hasil tugas sekolahnya.
“Awalnya hanya bercanda,” kata salah satu pelaku. “Tapi lama-lama kami keterusan.”
Fenomena ini memperlihatkan betapa budaya “canda” di kalangan remaja seringkali tidak memiliki batas. Tanpa pendampingan, candaan berkembang menjadi kekerasan psikologis. Dan masalahnya, banyak sekolah tidak memiliki sistem deteksi dini yang memadai.
Menurut sejumlah pengamat pendidikan, bullying di sekolah sering berakar dari tiga hal: kurangnya literasi emosional, pola komunikasi yang buruk, dan tidak adanya keteladanan dalam berinteraksi. Ketika anak tidak diajarkan untuk memahami perasaan sendiri dan orang lain, mereka tumbuh dengan cara yang defensif, reaktif, dan mudah mencari inferioritas orang lain untuk merasa superior.
Pihak sekolah Rafi mulai mengambil langkah. Mereka menyusun SOP penanganan bullying, mengadakan kelas literasi emosi, dan rutin menggelar dialog kelas. Hasilnya, perlahan suasana sekolah berubah. Siswa mulai berani melaporkan kejadian, guru lebih peka terhadap perubahan perilaku, dan orang tua lebih terlibat dalam pendidikan karakter di rumah.
Namun cerita Rafi mengingatkan kita: upaya melawan bullying bukanlah pekerjaan sehari dua hari. Itu membutuhkan komitmen jangka panjang dari semua pihak—guru, sekolah, orang tua, dan siswa sendiri.
Di koridor sekolah itu kini terdengar tawa yang sama seperti dulu. Bedanya, tawa itu tidak lagi menutupi luka seseorang. Setidaknya tidak hari ini. Dan harapan kita, tidak lagi besok.