Opini

Gunung Semeru Masih Berstatus Level IV (Awas), Erupsi Beruntun dan Lahar Hujan Ancam Warga

Lumajang, Jawa Timur Aktivitas vulkanik Gunung Semeru kembali meningkat sejak 24–26 November 2025. Berdasarkan laporan petugas pos pengamatan dan catatan seismograf, Semeru masih berada pada Status Level IV (Awas), dengan erupsi yang terus terjadi, banjir lahar hujan, serta ancaman awan panas guguran (APG) yang berpotensi meluncur ke wilayah tenggara gunung.

Pada Selasa–Rabu (25–26/11/2025), Gunung Semeru mencatat beberapa kali letusan sejak dini hari. Kolom abu teramati naik hingga 500–1.000 meter di atas puncak, dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas tebal.Erupsi yang terekam pukul 07.02 WIB menghasilkan kolom abu setinggi 500 meter, mengarah ke utara dengan amplitudo 22 mm dan durasi 115 detik. Letusan kedua terjadi pukul 07.42 WIB, mengeluarkan kolom abu 600 meter yang mengarah ke barat daya dengan durasi 125 detik.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Mukdas Sofian menjelaskan bahwa aktivitas ini masih bagian dari fase erupsi yang belum mereda.”Gunung Semeru mengeluarkan letusan dengan tinggi kolom abu 500–600 meter. Potensi awan panas dan banjir lahar masih sangat tinggi,” ujarnya dalam laporan tertulis.

Awan Panas Guguran (APG) juga menjadi ancaman utama, terutama ke sektor tenggara menuju Besuk Kobokan yang dapat mencapai belasan kilometer dari puncak.PVMBG mengingatkan bahwa luncuran APG bisa terjadi tiba-tiba, terutama ketika guguran lava dari puncak meningkat.

Rabu (26/11/2025).Selain letusan, sensor seismik kembali merekam getaran banjir lahar hujan yang terjadi akibat tingginya curah hujan di puncak yang bercampur dengan material vulkanik. Meski disebut “lahar dingin”, material ini masih dapat terasa hangat atau panas jika berasal dari endapan erupsi baru.

https://news.detik.com/berita/d-8229066/masih-berstatus-awas-gunung-semeru-2-kali-erupsi-pagi-ini

PVMBG dan BNPB menetapkan sejumlah zona merah yang wajib dipatuhi warga Radius 8 km dari puncak dilarang beraktivitas sama sekali,Sektor Tenggara – Besuk Kobokan dilarang memasuki area dalam radius 13 km, diperluas hingga 17–20 km untuk antisipasi lahar dan di tepi sungai warga dilarang berada 500 meter dari sempadan sungai yang berhulu ke Semeru karena risiko longsor dan perluasan aliran lahar.

Imbauan juga disampaikan untuk tidak mendekati aliran lahar hanya untuk merekam video atau foto. Kondisi tanah yang labil dapat longsor mendadak.Pemerintah Kabupaten Lumajang secara resmi memperpanjang Status Tanggap Darurat Bencana Erupsi Gunung Semeru selama 7 hari ke depan, berlaku hingga 2 Desember 2025.

Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, menegaskan bahwa perpanjangan ini perlu dilakukan karena adanya potensi erupsi susulan serta dampak bencana yang masih ditangani.“Status darurat akan kita perpanjang sesuai arahan Presiden. Penanganan dampak erupsi masih berjalan dan potensi bahaya Semeru masih tinggi,”ujarnya saat meninjau lokasi terdampak di Desa Supiturang.

Warga Diminta Waspada dan Siap Evakuasi, BPBD Lumajang, dan PVMBG meminta warga tetap waspada dan segera melakukan evakuasi mandiri jika hujan deras terjadi di kawasan puncak, meskipun di lokasi warga tidak turun hujan.Warga juga diminta terus memantau informasi resmi dari pemerintah dan tidak mendekati aliran sungai atau lembah yang berpotensi menjadi jalur luncuran lahar maupun awan panas.

Related posts

K-Popers Indonesia Menggerakkan Industri Kreatif

Dini Dwi Safitri

Sungai di Dandang Gading Probolinggo Dipenuhi Sampah, Warga Resah

Alvin nur Romadhoniah

Pajarakan, Antara Pertumbuhan Pesat dan Tantangan Pemerataan.

Rafli Rhomadhoni

Leave a Comment