Probolinggo, 12 November 2025 — Mahasiswa angkatan 2024 Program Studi Tadris Bahasa Indonesia Universitas Islam Zainul Hasan Genggong sukses menyelenggarakan seminar studi bertajuk “Kritik Al-Qur’an terhadap Feodalisme”. Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas akhir mata kuliah Studi Al-Qur’an yang diampu sekaligus dipantik oleh Bapak Rahmat Hidayatullah, Lc., M.Pd.
Acara berlangsung pada Rabu (12/11) di Aula KH. Hasan Genggong dengan suasana yang meriah dan khidmat. Sekitar 80 peserta turut hadir, terdiri atas mahasiswa angkatan 2024 kelas A dan B, angkatan 2025 Tadris Bahasa Indonesia, serta perwakilan HMPS dari Tadris IPS, PGMI, dan beberapa Tadris umum lainnya. Turut hadir pula Kaprodi Tadris Bahasa Indonesia, Ibu Magfirotul Hamdiah, M.Pd., serta dosen tetap Universitas Islam Zainul Hasan Genggong, Bapak Ahmad Ilzamul Hikam, M.Pd., dan Ibu Irfani Husnawiyah, M.Pd.
Walaupun berasal dari jurusan Tadris Umum, bukan keagamaan murni, mahasiswa angkatan 2024 Tadris Bahasa Indonesia Universitas Islam Zainul Hasan Genggong berhasil membuktikan bahwa kajian Al-Qur’an dapat dikembangkan secara kritis dan kontekstual. Seminar studi bertema “Kritik Al-Qur’an terhadap Feodalisme” ini menjadi wadah untuk menjawab kegelisahan sosial, khususnya fenomena feodalisme yang masih terasa dalam kehidupan pesantren dan masyarakat modern saat ini. Seminar menghadirkan dua pemateri utama, yaitu Moh. Juaeni Hisbullah dan Sonia Febrila, seorang mahasiswa dan mahasiswi unzah yang latar belakang pendidikan asli pesantren sejak kecil, yang memaparkan kajian mendalam tentang sejarah dan latar belakang feodalisme serta kritik Al-Qur’an terhadap sistem sosial yang menindas dan menciptakan ketimpangan. Keduanya mengulas bahwa sistem feodal telah muncul sejak masa kerajaan-kerajaan kuno dan masih memberi dampak pada pola sosial masyarakat modern. Sebagai pemantik diskusi, Bapak Rahmat Hidayatullah, Lc., M.Pd., memberikan penguatan materi sekaligus untuk menjawab kegelisahan sosial, khususnya fenomena feodalisme yang masih terasa dalam kehidupan pesantren ( Oknum ) dan masyarakat modern saat ini. Ditambah isu khususnya isu fenomena feodalisme yang masih hangat diperbincangkan, dan memperluas perspektif dengan membahas perbedaan antara konsep feodalisme dan abdi atau hamba dalam pandangan Islam. “Feodalisme lahir dari kesombongan manusia yang merasa lebih tinggi dari yang lain. Sementara dalam Islam, konsep ‘abdi’ atau ‘hamba’ justru mencerminkan kerendahan hati dan kepatuhan kepada Allah. Seorang hamba tidak tunduk kepada manusia, tetapi guru menjadi wasilah ( hubungan ) mendekatkan diri kepada Tuhannya. Inilah perbedaan mendasar yang menjadikan Islam menolak segala bentuk sistem sosial yang menindas,” tegasnya.
Diskusi berlangsung sangat menarik dan interaktif, dengan berbagai pertanyaan kritis dari peserta yang memperdalam pemahaman tentang relevansi nilai-nilai Al-Qur’an terhadap fenomena sosial dan budaya modern. Suasana meriah dan penuh antusiasme, namun tetap berjalan khidmat, menjadikan kegiatan ini sarat makna dan bernilai akademis tinggi. Dalam sambutannya, Ibu Magfirotul Hamdiah, M.Pd., selaku Kaprodi Tadris Bahasa Indonesia, menyampaikan apresiasinya atas keberhasilan mahasiswa dalam menyelenggarakan kegiatan ilmiah tersebut.
“Seminar ini menunjukkan kemampuan mahasiswa untuk berpikir kritis dan religius sekaligus. Mereka mampu mengaitkan ajaran Al-Qur’an dengan realitas sosial yang kompleks,” ujarnya.
Koordinator kegiatan, Vellya Rahma Permadani, juga menyampaikan rasa syukurnya atas terselenggaranya seminar ini.
“Kami berterima kasih kepada seluruh dosen dan peserta yang telah mendukung acara ini. Diskusinya sangat menarik dan membuka wawasan baru tentang bagaimana Al-Qur’an mengajarkan keadilan sosial dan menolak sistem feodal,” ungkapnya.
Acara ditutup dengan doa bersama dan sesi dokumentasi di Aula KH. Hasan Genggong. Seminar ini menjadi salah satu bukti nyata semangat ilmiah mahasiswa Universitas Islam Zainul Hasan Genggong dalam mengintegrasikan nilai-nilai Al-Qur’an dengan kajian sosial dan budaya secara kritis dan kontekstual.




