Insight

Ibu, Antara Tiga Anak dan Puluhan Hati Kecil

Cerita ini mengisahkan Zubaidatul Ulum, seorang ibu sekaligus guru yang menjalani hari-harinya dengan ketulusan.Setiap pagi ia menyiapkan kebutuhan anak-anaknya, lalu beralih menjadi pendidik bagi puluhan murid di sekolah.Meski lelah tak pernah jauh, cintanya tetap mengalir tanpa pamrih.Dalam kesederhanaannya, ia menanam nilai, doa, dan kasih pada setiap hati kecil yang Allah titipkan kepadanya menjadi simbol keikhlasan yang bekerja dalam diam.

Pagi itu, mentari baru saja menyembulkan wajahnya di ufuk timur. Embun masih menempel di dedaunan, dan aroma masakan hangat memenuhi dapur rumah sederhana di sudut kota kecil.
Di sana, seorang perempuan paruh baya tampak sibuk menyiapkan sarapan. Tangannya cekatan, wajahnya tenang, namun sorot matanya menyimpan seribu cerita.

Tiga anaknya bersiap dengan seragam berbeda, satu dengan dasi merah, satu dengan baju olahraga, satu lagi sibuk mencari buku yang hilang entah di mana. Sementara ia, mengenakan jilbab rapi dan tas berisi buku, spidol, serta secarik doa yang selalu ia bawa di dada.

Namanya Ibu Zubaidatul ulum.
Bagi dunia, ia hanyalah seorang guru biasa.
Namun bagi kami, tiga anak yang tumbuh dari peluknya, ia adalah rumah yang tak pernah padam cahayanya.
Ia adalah tempat pulang dari segala letih, tempat kami belajar tentang arti sabar, cinta, dan keikhlasan yang tak bertepi.

Menjadi ibu dari tiga anak bukan perkara mudah. Hidupnya penuh warna ada tawa yang renyah, tangis yang diam-diam, dan doa yang tak pernah putus di setiap akhir hari.
Ia sering berkata,

“Setiap anak punya kisahnya sendiri, dan Ibu belajar dari semuanya.”

Namun kisah hidup ibu tidak berhenti di rumah. Setelah memastikan kami berangkat dengan perut kenyang dan hati senang, ia pun melangkah ke sekolah.
Di sana, puluhan wajah kecil telah menunggunya dengan mata berbinar dan panggilan lembut,

“Ibu Guru…”

Bagi mereka, Ibu bukan sekadar pengajar.
Ia adalah penuntun hati, cahaya yang sabar menuntun huruf-huruf menjadi kata, dan angka-angka menjadi harapan.
Ia mengajarkan lebih dari sekadar pelajaran ia mengajarkan kehidupan. Tentang kedisiplinan, tanggung jawab, dan cinta yang sederhana namun tulus.

Di antara dua dunia rumah dan sekolah ia membagi kasih tanpa hitung, membagi waktu tanpa keluh. Untuk tiga anaknya di rumah, ia adalah ibu yang menenangkan. Untuk puluhan hati kecil di sekolah, ia adalah Ibu guru yang menginspirasi.

Malam hari, ketika seluruh rumah mulai sunyi, aku sering melihat ibu duduk di ruang tamu. Cahaya lampu redup menyoroti wajah lelahnya, sementara tangannya masih memeriksa buku tugas murid-muridnya.Aku menghampiri, lalu berbisik pelan, “ibu, capek ya?”
Ia menatapku, tersenyum. Senyum yang hangat sekaligus dalam.
“Capek itu biasa, Nak. Tapi ibu bahagia kalau kalian dan anak-anak ibu di sekolah bisa belajar dengan baik.”

Kalimat itu menancap di hatiku seperti pelajaran yang tak pernah selesai.
Dari senyum ibu, aku belajar bahwa cinta sejati tak pernah menuntut, hanya memberi.
Seperti kasih sayang seorang ibu atau seorang guru tak mengenal batas waktu dan tempat.

Setiap malam sebelum tidur, aku tahu ada doa yang ibu bisikkan.
Doa untuk kami, tiga anaknya, agar tumbuh menjadi manusia yang berakhlak. Doa untuk murid-muridnya, agar menjadi generasi yang berilmu dan rendah hati. Dan mungkin, doa kecil untuk dirinya sendiri agar tetap kuat, meski hari-hari kadang terasa berat.

Aku pernah menulis satu kalimat tentangnya:

“Di matamu, Ibu, kami melihat keajaiban sederhana: cinta yang tak pernah habis, untuk tiga anak dan puluhan hati kecil yang kau rawat setiap hari.”

Kini aku tahu, ibu bukan hanya guru bagi murid-muridnya, tapi juga guru bagi kehidupan kami.
Ia mengajar bukan hanya dengan kata, tapi dengan tindakan: dengan kesabaran di tengah lelah, dengan senyum di antara tanggung jawab, dengan doa yang menembus langit setiap malam.

Ibu mungkin tak pernah sadar betapa hebat dirinya.
Namun bagiku, ia adalah perempuan paling luar biasa
perempuan yang membagi hatinya tanpa pernah berkurang sedikit pun, yang mengajarkan cinta bukan lewat ucapan, tapi lewat ketulusan yang diam-diam tumbuh di setiap harinya. Ibu satu hati untuk tiga anak, dan puluhan hati kecil yang selalu merindukan kasih sayangnya

Related posts

Boy Arnes, Sang Bintang Muda yang Menginspirasi

Lukmanul Hakim

Bapak yang Selalu Mengusahakan Keluarga

Ananda Novalia Putri

Dr. Abd. Aziz Wahab: Meneguhkan Jalan Ilmu di Tengah Nilai Pesantren

hip nara

Leave a Comment