Dalam perjalanan hidup manusia, selalu ada sosok yang menjadi sumber inspirasi dan kekuatan. Bagi penulis, kedua orang tua adalah cerminan cinta yang mendalam. Dua pribadi yang tanpa banyak kata telah menanamkan nilai-nilai kehidupan yang membentuk jati diri hingga hari ini
Akar Kehidupan ibu
Ibu adalah potret keteguhan yang tumbuh dari kesunyian. Sejak kecil, ia telah kehilangan kasih sayang orang tua dan hidup mandiri di pondok pesantren. Meski tidak pernah merasakan hangatnya dekapan keluarga, Ibu berhasil menumbuhkan kasih sayang yang begitu luas. Ia tidak memiliki ijazah pendidikan formal, tetapi kebijaksanaannya lahir dari pengalaman dan kesabaran hidup.
Dalam kesehariannya, Ibu dikenal sebagai sosok yang kreatif dan penuh inisiatif. Ia pandai memasak, membuat kue, melayani pesanan katering, hingga dipercaya menjadi juru masak di berbagai hajatan. Semua dilakukan dengan cinta dan ketulusan tanpa pamrih. Dari Ibu, penulis belajar arti keteguhan: bagaimana menjadi lembut tanpa kehilangan kekuatan, bagaimana tetap bersyukur di tengah keterbatasan.
Ketegasan dan Kehangatan Ayah
Ayah adalah sosok yang tegas, pekerja keras, dan penuh tanggung jawab. Ia tumbuh di lingkungan keluarga yang kurang harmonis, hingga sifat keras menjadi bagian dari dirinya. Namun waktu dan pengalaman perlahan melembutkannya. Kini, Ayah menjadi figur yang mampu menyeimbangkan ketegasan dan kasih sayang.
Ayah jarang menunjukkan cintanya lewat kata-kata, tetapi lewat tindakan. Dari caranya bekerja, menjaga keluarga, dan berusaha memenuhi setiap kebutuhan, penulis melihat bentuk cinta yang nyata. Dari Ayah, penulis belajar bahwa kasih tidak selalu diucapkan, tetapi diwujudkan dalam usaha menjaga dan melindungi.
Harmoni Dua Jiwa
Ayah dan Ibu bagaikan dua sisi mata uang: berbeda karakter, namun saling melengkapi. Ibu menanamkan kasih, Ayah meneguhkan arah. Dari mereka, penulis mengenal arti rumah yang sebenarnya — tempat di mana cinta dan tanggung jawab berjalan beriringan. Kebahagiaan tidak selalu datang dari kemewahan, melainkan dari keikhlasan dua hati yang saling memahami.
Refleksi dan Rasa Syukur
Segala pencapaian yang penulis raih hingga saat ini adalah hasil dari perjuangan dan doa kedua orang tua. Setiap tetes peluh Ayah dan setiap doa Ibu di malam hari menjadi pondasi kokoh dalam membentuk masa depan. Karena itu, penulis bertekad untuk tidak mengecewakan mereka.
Menjadi sarjana pertama dalam keluarga adalah salah satu wujud perjuangan yang ingin dipersembahkan untuk mereka — sebagai bukti bahwa cinta dan pengorbanan mereka tidak pernah sia-sia. Penulis berharap Tuhan memberi keduanya umur panjang, agar masih sempat melihat buah dari setiap usaha dan doa yang telah mereka tanamkan.
Bagi penulis, kedua orang tua bukan hanya sosok yang membesarkan, tetapi juga pelita yang menuntun langkah dalam setiap gelap kehidupan. Dari mereka, penulis belajar bahwa cinta sejati tak selalu diungkapkan dengan kata, tetapi terasa dalam setiap halusnya pengorbanan.
Penutup
Dari perjalanan Ayah dan Ibu, penulis memahami bahwa hidup bukan tentang seberapa besar kita memiliki, tetapi seberapa tulus kita memberi. Kasih mereka tumbuh tanpa pamrih, mengajarkan bahwa cinta sejati hadir dalam kesederhanaan — dalam senyum lelah yang tetap hangat, dalam tangan yang terus bekerja, dan dalam doa yang tak pernah berhenti diucapkan.
Mereka adalah cermin dari perjuangan dan keikhlasan, dua jiwa yang membentuk arti rumah sesungguhnya. Dan selama napas masih berhembus, penulis berjanji untuk terus melangkah di bawah cahaya mereka — tidak hanya sebagai anak, tapi juga sebagai penerus harapan yang akan menjaga makna cinta itu agar tetap hidup.
“Beberapa kisah tak perlu ditulis di atas kertas.
Cukup hidup di dada mereka yang lahir dari cinta itu.” — Lly