Opini

Ketika suara rakyat hanya bergema di pagar DPR

Demonstrasi besar yang digelar di depan Gedung DPR RI pada 22 September 2025 kembali membuka cermin tentang jarak antara rakyat dan wakilnya. Ribuan buruh datang dari berbagai daerah, membawa harapan agar suara mereka didengar, namun yang sering terjadi, gema teriakan itu hanya berhenti di pagar besi yang kokoh.Aksi para buruh kali ini bukan sekadar tentang upah, tetapi tentang martabat. Tentang bagaimana sistem kerja yang makin menekan, membuat manusia seolah hanya menjadi bagian dari mesin produksi.

Mereka menolak outsourcing bukan karena tidak ingin bekerja keras, tapi karena sistem itu sering mencabut rasa aman dan harga diri seorang pekerja. Di balik tuntutan ekonomi, ada jeritan batin manusia yang ingin diperlakukan adil.Namun sayangnya, setiap kali rakyat turun ke jalan, suara mereka sering kali direduksi menjadi “keributan.” Mereka dianggap pengganggu ketertiban, bukan penyampai kebenaran.

Padahal, demonstrasi adalah bahasa terakhir ketika pintu dialog terasa tertutup. Ketika para wakil rakyat lebih sibuk berdebat di ruang berpendingin daripada mendengar keluhan mereka yang berpanas-panasan di bawah matahari.Pertemuan antara perwakilan buruh dan Ketua DPR memang menjadi langkah yang patut diapresiasi, tapi publik tahu bahwa pertemuan semacam itu sering berhenti pada janji. Kata-kata “kami akan menampung aspirasi” sudah terlalu sering terdengar, namun jarang berubah menjadi kebijakan nyata. Rakyat tidak butuh janji, mereka butuh keadilan yang bisa dirasakan.

Demo di depan DPR kali ini seharusnya menjadi pengingat keras bagi para wakil rakyat bahwa kekuasaan bukan tempat bersembunyi, melainkan tempat mendengar. Gedung DPR tidak seharusnya menjadi simbol jarak, tetapi jembatan antara suara rakyat dan kebijakan negara. Jika pagar besi terus menjadi batas antara keduanya, maka demokrasi hanya akan menjadi ritual, bukan kenyataan.Pada akhirnya, buruh bukan sedang meminta lebih — mereka hanya meminta cukup: cukup untuk hidup layak, cukup untuk dihargai, cukup untuk tidak dilupakan oleh mereka yang dulu berdiri di panggung kampanye sambil berkata “kami wakil rakyat.”

Related posts

Bapak-Anak Pembunuh Deding di Probolinggo Terancam Hukuman Seumur Hidup

Vera Safera

Kunjungan petugas kesehatan pukesmas Paiton ke MI Raudlatul Ulum

Sri Wahyuni

Timothy Ronald Cermin Ambisi Anak Muda di Dunia Crypto”

Na ifa

Leave a Comment