Feature

Demo butuh di depan DPR RI,22 September 2025

Pagi itu langit Jakarta tampak buram oleh panas dan debu. Di depan Gedung DPR RI, lautan manusia mulai mengalir dari berbagai arah, membawa spanduk, bendera, dan teriakan yang menggema di antara deru kendaraan. Bau keringat bercampur asap kendaraan menjadi saksi bisu ribuan pekerja yang menuntut satu hal sederhana: keadilan.“Upah bukan kemurahan hati, tapi hak kami!” teriak seorang perempuan dengan pita merah di kepala.

Di tangannya tergenggam poster lusuh bertuliskan penolakan terhadap sistem outsourcing. Wajahnya penuh keringat, tapi matanya menyala oleh semangat. Ia datang dari Bekasi, menumpang truk bersama puluhan rekannya sejak subuh. Bagi mereka, jarak bukan halangan selama suara mereka bisa sampai ke telinga para wakil rakyat yang berdiri di balik pagar besi gedung megah itu.Di atas mobil komando, orator bersuara serak mengumandangkan tuntutan. “DPR jangan tutup telinga! Kami datang bukan untuk ribut, tapi untuk hidup layak!” teriaknya. Sorakan menyambut, riuh, bersahutan dengan dentuman drum dan peluit yang membuat udara bergetar.

Namun di sisi lain pagar, barisan aparat berdiri tegak. Helm dan tameng mereka berkilat tertimpa matahari siang. Meski jarak memisahkan, tatapan di antara dua kubu itu kadang saling bertemu—bukan dalam kebencian, tapi mungkin dalam pengertian yang samar: mereka sama-sama rakyat, hanya berada di sisi yang berbeda dari pagar kekuasaan.Menjelang siang, Ketua DPR RI Puan Maharani menerima beberapa perwakilan buruh di ruang rapat parlemen. Di sana, dalam ruang berpendingin udara dan wangi karpet tebal, para pekerja yang wajahnya masih dilumuri debu jalanan menyampaikan keresahan mereka: tentang upah yang tak sepadan, kerja tanpa jaminan, dan masa depan anak-anak mereka yang makin buram. “Kami hanya ingin dihargai sebagai manusia,” kata salah satu perwakilan dengan suara bergetar.

Pertemuan itu berjalan hangat namun penuh tanda tanya. Setelah keluar, para buruh tak membawa banyak janji, hanya harapan bahwa kata-kata mereka tidak hilang ditelan ruang sidang. Di luar, massa menyambut mereka dengan tepuk tangan dan sorak-sorai. Suara peluit kembali terdengar, bukan karena kemenangan, tapi karena keyakinan bahwa perjuangan belum usai.Menjelang sore, langit Jakarta kembali memerah. Satu per satu massa mulai pulang, meninggalkan botol air, keringat, dan jejak langkah di aspal panas. Namun gema teriakan mereka masih menggantung di udara.

“Hidup buruh! Hidup rakyat!” seru seorang pria tua sebelum truk yang ditumpanginya perlahan menjauh.Di balik hiruk pikuk itu, Jakarta kembali sibuk seperti biasa. Tapi di hati banyak orang, terutama mereka yang datang ke depan DPR hari itu, ada secuil keyakinan bahwa suara kecil mereka telah menggetarkan pagar kekuasaan meski hanya sebentar.

Related posts

“Belajar dan Berkarier: Kisah Inspiratif Dew Jirawat yang Tak Lupa Pendidikan “

Jamilatuz Zahro

Zahra Dangdut Academy 7 Tersenggol, Studio Indosiar Haru: “Dia Selalu Bikin Kami Tertawa”

Afifah Afifah

Selogudig Wetan: Desa yang Membuat Saya Merasa Pulang

Rafli Rhomadhoni

Leave a Comment