Feature

Saat Kitab dan Kampus Menjadi Satu Jalan Hidup

Di saat banyak mahasiswa hanya sibuk dengan tugas dan perkuliahan, ada sebagian yang menjalani dua dunia sekaligus menjadi santri dan mahasiswa. Antara jadwal kuliah yang padat dan kewajiban pesantren yang ketat, mereka belajar tentang arti kesungguhan dan keikhlasan yang sebenarnya.

Subuh belum tiba, tapi langkah kaki para santri sudah memenuhi jalan kecil menuju masjid. Suara ngaji di pagi buta menjadi pengingat, bahwa setiap hari di pondok dimulai bukan dengan ambisi, melainkan dengan dzikir dan kesederhanaan. Di sinilah keseharian itu bermula. Di tengah disiplin, keseimbangan, dan suasana religius yang menumbuhkan makna hidup sederhana.

Namun ketika jam belajar kitab usai, dunia lain menanti: dunia kampus. Dari sarung ke tas ransel, dari kitab kuning ke buku teori, dari nasihat kiai ke arahan dosen dua dunia yang berbeda, namun sama-sama menuntut kesungguhan.

Menjalani kuliah sambil mondok bukan sekadar soal membagi waktu. Ia adalah tentang menjaga harmoni antara ilmu agama dan ilmu umum, antara ketaatan dan kecerdasan. Di pondok, saya belajar bagaimana menjadi manusia yang beriman; di kampus, saya belajar bagaimana berpikir kritis dan terbuka.

Ada masa-masa penat yang tak bisa dihindari. Kadang jadwal kuliah bersinggungan dengan kegiatan pondok, atau tugas kampus menumpuk saat waktu mengaji belum usai. Pernah pula terselip rasa iri pada teman-teman yang hidupnya tampak lebih bebas. Namun di setiap lelah itu, selalu teringat pesan kiai: “Ilmu yang berkah lahir dari hati yang ikhlas.”

Kini aku mulai memahami, bahwa hidup di dua dunia bukanlah beban, melainkan jalan pembentukan diri. Di kampus aku menata cita-cita, di pondok aku menata jiwa. Keduanya membuatku paham, bahwa belajar bukan hanya soal mengejar nilai, tapi juga tentang bagaimana menjadi manusia yang bermakna, berilmu, beriman, dan berakhlak.

Related posts

Menyusuri Keajaiban Air Terjun Madakaripura, Surga Tersembunyi di Probolinggo

Bela Dwi Lestari

Ketika Sihir Hogwarts Menyentuh Generasi Digital

Seftiana Sya'baniah

Dari Fotografi hingga Seni Lukis: Cara Indah Mengekspresikan Diri

Nur Hayaty

Leave a Comment