“Kalau sinyalnya hilang, aku masih bisa kirim doa, kan?”
Kalimat sederhana itu terdengar dari seorang gadis di ujung desa, sambil memegang ponsel tuanya yang hanya bisa menangkap dua bar sinyal. Pesannya tak terkirim. Tapi hatinya yakin—doanya sudah sampai.
Begitulah kisah hidup sebagian orang di pelosok negeri ini. Hidup di antara sinyal yang naik turun dan doa yang tak pernah padam. Ketika teknologi sering gagal menghubungkan, mereka justru menemukan cara lain untuk tetap terhubung: lewat doa yang tak butuh jaringan, tak kenal gangguan, dan tak pernah kehabisan kuota.
—
Ketika Sinyal Tak Selalu Bisa Menghubungkan
Di sebuah desa di lereng gunung, sinyal adalah barang mewah. Untuk sekadar mengirim pesan “sudah makan belum?”, orang harus berjalan beberapa ratus meter ke bukit atau menunggu tengah malam ketika jaringan sedikit lebih stabil.
Namun, bagi mereka yang menunggu kabar—entah dari anak yang merantau atau pasangan yang jauh—tak ada yang bisa dilakukan selain bersabar, berharap, dan berdoa.
“Anakku sudah seminggu gak telepon. Tapi gak apa-apa, mungkin sibuk. Ibu doain aja dari sini,” kata Bu Marni, warga Desa Klagenan, dengan senyum kecil di wajahnya.
Tak ada nada getir. Hanya ketulusan yang pelan-pelan menenangkan.
—
Di Antara Teknologi dan Keikhlasan
Kita hidup di zaman di mana semua serba cepat. Pesan terkirim dalam detik, panggilan video bisa dilakukan kapan saja. Tapi ironisnya, justru di era sinyal yang kuat ini, banyak hati yang semakin jauh.
Sementara itu, mereka yang hidup tanpa jaringan malah lebih dekat—bukan lewat kata, tapi lewat rasa.
Doa mereka menjadi sinyal paling jujur yang menghubungkan hati-hati yang saling merindu.
“Setiap malam, saya sebut namanya satu-satu,” ujar Bu Marni pelan. “Saya gak tahu dia udah tidur apa belum, tapi semoga Tuhan sampaikan salam saya.”
—
Ketika Doa Jadi Sinyal Terkuat
Dalam diam dan kesunyian, ada koneksi yang lebih dalam daripada sekadar notifikasi ponsel.
Doa mengalir tanpa perlu sinyal, menembus jarak ribuan kilometer, menjangkau hati yang dituju.
Sinyal bisa hilang. Tapi doa tak pernah gagal menemukan alamatnya.
Ia selalu tahu ke mana harus pergi — langsung ke langit, sebelum akhirnya jatuh lembut ke hati orang yang disebut namanya di setiap sujud.
—
Rindu, Jarak, dan Harapan
Banyak orang lupa, bahwa rindu tidak selalu butuh balasan. Kadang cukup dikirimkan lewat doa.
Karena sejauh apa pun jarak memisahkan, hati yang saling mendoakan akan tetap terhubung.
Mungkin itu yang dimaksud dengan “di antara sinyal dan doa” — ruang kecil di mana teknologi berhenti bekerja, tapi cinta dan harapan tetap berjalan.
—
Penutup: Pesan dari Tempat yang Tak Terjangkau Sinyal
Di dunia yang semakin bising oleh notifikasi, kisah-kisah sederhana seperti ini mengingatkan kita bahwa tidak semua hal perlu dikirim lewat jaringan digital. Ada pesan yang hanya bisa disampaikan lewat hati.
Dan mungkin, dalam setiap doa yang naik diam-diam di malam hari, selalu ada seseorang di tempat lain yang tiba-tiba merasa tenang — tanpa tahu bahwa namanya baru saja disebut dalam bisikan lembut menuju langit.
Karena di antara sinyal yang hilang dan doa yang terkirim, selalu ada cinta yang tak pernah putus koneksinya.