Pagi itu, angin laut di pesisir Probolinggo berhembus kencang. Langit kelabu, ombak bergulung tinggi. Namun di antara deru ombak, tampak sosok Suyatno (47), nelayan Desa Kalibuntu, tetap mempersiapkan perahunya. “Kalau tidak melaut, keluarga mau makan apa?” ujarnya sambil mengikat jaring yang mulai usang.
Selama dua puluh tahun, laut adalah sumber kehidupan bagi Suyatno. Tapi belakangan, laut tak lagi bersahabat. Cuaca sulit ditebak, badai sering datang tiba-tiba, dan hasil tangkapan menurun drastis.“Sekarang kalau berangkat melaut, rasanya seperti berjudi dengan nyawa,” katanya dengan tatapan jauh.
Menurut data BMKG Juanda, suhu permukaan laut di pesisir utara Jawa Timur meningkat signifikan, memengaruhi arah angin dan pola arus laut. Akibatnya, ikan-ikan menjauh dari perairan dangkal. Pendapatan nelayan pun menurun hingga 40 persen dalam dua tahun terakhir.
Sebagian nelayan memilih mencari kerja lain — menjadi buruh bangunan atau ojek daring. Namun bagi Suyatno, laut sudah menjadi bagian hidup. “Saya lahir di sini, besar di laut. Kalau disuruh berhenti melaut, rasanya seperti kehilangan rumah,” ujarnya lirih.
Kini, di tengah ancaman iklim dan ekonomi, nelayan Probolinggo tetap berjuang dengan semangat pantang menyerah. Mereka berlayar bukan hanya mencari ikan, tapi juga mempertahankan harapan. Di setiap fajar yang mereka hadapi, ada tekad untuk terus berlayar — meski laut tak lagi seindah dulu.