Sastra

Bulan

Di sebuah desa kecil di Jawa Timur, Rara menjalani hidupnya seperti bayangan yang tenang dan tertutup. Usianya 19 tahun, mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia. Wajahnya kecil dan halus, tubuhnya tinggi dan kurus, kulitnya putih seperti salju pagi, dengan bibir tipis yang  cerewet dengan orang terdekat. Tapi, Rara punya kebiasaan yang membuatnya sering salah paham, ia selalu belibet dan typo saat mengetik pesan, dan bahkan saat bicara cepat, kata-katanya terbalik seperti angin yang berputar. “aku tadi ke puskesmas, eh maksudku perpustakaan!” katanya saat sedang mengobrol dengan temannya.

Rara tinggal bersama orang tuanya yang cukup keras, di sebuah rumah sederhana. Orang tua Rara mempunyai warung itu terletak di kantin sebuah SMP, tempat Rara membantu orang tuanya setiap pagi sebelum kuliah. Ia menata dagangan, menyapa anak-anak sekolah dengan senyum, dan sesekali mengobrol random tentang cuaca atau tugas sekolah mereka. Rara adalah anak rumahan sejati males keluar rumah kecuali untuk kuliah atau hanya ketika sahabatnya mengajak keluar saja. Media sosial? Ia sangat tertutup. Tak punya akun Instagram, tak pernah bikin status di WhatsApp. Bagi Rara tidak semua hal harus orang lain tahu tentangnya cukup mereka yang dekat denganya saja. Hanya orang terdekatnya saja yang tahu seperti apa sifat Rara.

Setiap hari, rutinitasnya sama di pagi hari berberes rumah, mengurus adiknya dan membantu orang tuanya di warung. Di kampus, ia sibuk dengan tugas-tugas esai dan analisis puisi, mengobrol ringan dengan segelintir teman. Tapi, jarang sekali orang lain tahu tentang dirinya. “Mungkin aku gak menarik,” pikirnya. Rara lebih suka menggambar sketsa-sketsa halus di buku catatannya pemandangan malam atau wajah dan menulis cerita dibuku diary nya. Membaca novel romansa adalah pelariannya, di mana ia bisa tenggelam dalam dunianya sendiri. Jika dirumah Rara suka meringkuk di kamarnya dengan ponsel membuka TikTok dan YouTube, menonton video-video yang membuatnya melupakan kerasnya hari.

Suatu malam, saat hujan deras mengguyur atap seng  di kamar sederhana yang yang penuh dengan barang yang berbau bunga. Saat sedang scrolling beranda TikTok, sebuah video editan muncul di berandanya. Itu menampilkan seorang pemuda bernama Rangga, 18 tahun, dari Magelang, Jawa Tengah. Rangga adalah penari seniman di grup seni Griya Wana Seni Muda. Tubuhnya tinggi, kulitnya putih, dan matanya sayu seperti menyimpan rahasia langit malam. Rangga terlihat dingin di permukaan, tapi senyumnya hangat, dan ia sering belibet saat berbicara sangat mirip dengan Rara. Rangga tinggal dengan ibu, kakak laki-laki dan adik perempuannya, ayahnya sudah meninggal yang membuat kakak laki-laki nya harus menjadi tulang punggung keluarga meskipun begitu keluarganya sangat harmonis. Bahasa Jawanya yang khas, lembut dan beraksen membuat candu. Ia suka jalan-jalan seperti mendaki bukit, touring naik motor bersama teman, atau nongkrong di warung kopi sambil tertawa lepas.

Rangga punya ribuan penggemar, terpesona oleh ketampanannya, keramahannya yang hangat, dan aura misterius yang ia bawa seperti hembusan angin pegunungan. Video editan itu, dibuat oleh para pengagumnya, Rara terpaku. “Dia… keren banget,” bisiknya, jarinya berhenti scroll. Ia tak pernah follow akun media sosial Rangga karena Rara bukan tipe yang penasaran dengan kehidupan orang lain. Dari Jawa Timur, jarak ke Jawa Tengah terasa seperti lautan, terlalu jauh untuk mimpi. Tapi, senyumannya di video itu cukup membuat hati Rara berdegup. Ia hanya mengaguminya dari kejauhan, melalui potongan editan singkat yang muncul di beranda TikToknya saja. “Cukup lihat begini aja,” gumamnya, merasa itu sudah lebih dari cukup. Tak ada harapan lebih ia tahu bahwa banyak wanita yang menginginkannya, lebih berani dan dekat dengannya.

Sejak saat itu, setiap kali buka TikTok, Rara mencari video-video itu. Bukan stalking, hanya sekadar melihat. Senyum Rangga seperti bulan sabit, menerangi layar ponselnya di malam sunyi. Khayalan mulai menyusup ke hari-harinya sejak saat itu. Saat sedang sendirian, Rara membayangkan Rangga menari di bawah cahaya bulan, atau mereka bertemu di sebuah perjalanan jauh, Rara yang cerewet dengan typo nya, dan Rangga tertawa dengan mata sayunya khayalan itu membuatnya tersenyum sendirian. Tapi, realitas datang seperti hujan deras melihat komentar-komentar penggemar wanita di video-video itu, penuh emoji hati dan pengakuan suka. “Banyak yang suka dia pasti banyak juga yang pengen dekat sama dia,” pikir Rara, hatinya sedikit sesak. Ia mencoba menyingkirkan rasa itu, fokus pada menggambar atau membaca novel sampai larut. “Aku gak mau sakit hati,” tekadnya. Jarak yang jauh dan kesenjangan popularitas pengagum membuatnya sadar ini hanya kagum, bukan cinta yang harus dikejar.

Suatu sore, setelah pulang dari kampus Rara diam-diam menyimpan foto Rangga sebagai wallpaper ponselnya. Gambar itu sederhana yaitu foto Rangga yang tersenyum. Itu sudah lebih dari cukup baginya sebuah rahasia kecil di dunia tertutupnya. Lina, sahabat Rara yang bertemu saat dikampus, Rara menganggap Lina sudah seperti saudara kandungnya sendiri, ia adalah satu-satunya yang tahu rahasia ini. Saat sedang makan diluar kampus, di mana kami biasa mengobrol dan bercanda riang. “Eh, Ra, lagi senyum-senyum sendiri? Pasti mikirin cowok TikTok itu lagi, ya?” goda Lina sambil menyikut lengan Rara, membuatnya tersipu. Rara tak bisa bohong  ia cerita random tentang Rangga bicaranya yang belibet mirip denganya, mata sayunya, dan sifatnya. Lina mendengarkan dengan sabar, lalu memeluknya. “Kamu lucu banget, Ra. Tapi serius, ikhlaskan aja. Jangan sampe sakit hati gara-gara orang yang cuma di layar. Kamu pantas yang deket, yang bisa diajak ngobrol beneran.”

Hari demi hari, Rara berusaha melepaskan. Orang tuanya yang keras membuatnya lebih betah di rumah, menggambar sketsa bulan yang mengumpamakan Rangga sebagai bulan karena baginya Rangga seperti bulan sangat indah, tenang dan bersinar terang tetapi sangat sulit digapai. Khayalan tentang Rangga masih datang, tapi kini ia anggap sebagai inspirasi, bukan beban. “Aku mau lepasin perasaan ini,” tekadnya, sambil melihat wallpaper wajah Rangga yang ada di ponselnya itu sekilas sebelum tidur.

Waktu berlalu, dan Rara belajar melepaskan. Perasaan kagum pada Rangga tak hilang sepenuhnya, tapi tak lagi menyakiti. Ia masih sesekali lihat video editan di TikTok, cukup untuk tersenyum atas senyumnya yang hangat. Wallpaper itu tetap ada, sebagai pengingat bahwa mengagumi dari jauh bisa indah tanpa harus memiliki. Di kamarnya Rara menulis dibuku diary nya tentang Rangga dengan julukan Bulan ku. Semua itu menjadi bagian dari cerita hatinya sebuah cahaya kecil yang tak pernah pudar, tapi tak lagi mengikat. Rara tersenyum, ikhlas dengan apa adanya.

Related posts

Gema di Nabastala

Intan Faiqotul laili

Di Balik Target yang Tak Pernah Usai

Dini Dwi Safitri

Reflektif: tentang memahami diri sendiri

Alviatur Riska

Leave a Comment