Sastra

Rindu Yang Membawaku Pulang

Waktu itu aku duduk di kelas tiga SMA. Entah kenapa, tiba-tiba muncul keinginan besar dalam hatiku: aku ingin mondok. Aku sering lihat teman-teman yang mondok tampak begitu tenang dan religius, seolah hidup mereka lebih bermakna. Dalam pikiranku, mondok itu pasti seru—banyak teman baru, suasana religius, dan penuh kegiatan positif.

Awalnya, orang tuaku tidak langsung mengizinkan. Kata mereka, aku ini anaknya gampang kangen rumah, gak betahan jauh dari orang tua. Tapi aku bersikeras. Aku yakinkan mereka kalau aku sanggup, kalau aku ingin mencoba hidup mandiri. Akhirnya, dengan sedikit ragu, mereka pun mengizinkanku.

Hari pertama di pondok rasanya campur aduk. Aku senang karena mimpiku tercapai, tapi lama-lama rasa senang itu berubah jadi sepi. Suasananya berbeda dari yang aku bayangkan. Kegiatannya padat, aturan ketat, dan malam-malam terasa panjang tanpa suara ibu memanggil atau ayah menasihati.

Beberapa hari pertama aku masih bertahan. Tapi makin lama, rasa rindu itu makin kuat. Aku mulai menangis diam-diam setiap malam. Aku kangen rumah, kangen makanan ibu, kangen suasana kamar sendiri. Sampai akhirnya, aku sadar—ternyata tidak semudah itu menjadi mandiri.

Setelah beberapa minggu mencoba, aku memutuskan untuk pulang. Aku takut dibilang menyerah, tapi ternyata orang tuaku menyambutku dengan pelukan hangat. Mereka bilang, “Tidak apa-apa, yang penting kamu sudah berani mencoba.”

Sejak saat itu, aku belajar bahwa keinginan tidak selalu seindah bayangan. Kadang, hal yang tampak menyenangkan dari luar menyimpan perjuangan besar di dalamnya. Tapi aku tidak menyesal pernah mencoba, karena dari pengalaman itu aku belajar arti rumah, kerinduan, dan keberanian untuk mengenal diri sendiri.

Related posts

Senyum di Balik Kaca: Sebuah Perjalanan Menerima Diri

Afifah Afifah

Belajar di Senyap Pagi

Putri Syafarista

Aku dan Cinta yang Tak Kunjung Pulang

Imam Ghozali

Leave a Comment