Feature

Rizky Maulana, Cahaya dari Tepian Sungai

Di sebuah desa kecil di Kulon Progo, suara gemericik air sungai tak lagi hanya jadi latar kehidupan sehari-hari. Di sanalah, di antara bebatuan dan aliran air jernih, seorang pemuda bernama Rizky Maulana menemukan sumber harapan baru: energi.

Setiap sore, ketika matahari mulai condong ke barat, Rizky terlihat sibuk di tepi sungai. Dengan pakaian sederhana dan tangan yang tak lepas dari perkakas, ia merakit turbin kecil dari potongan besi bekas dan kipas motor. “Awalnya cuma coba-coba,” katanya sambil tersenyum. “Tapi ternyata air bisa benar-benar jadi cahaya.”

Rizky adalah mahasiswa Teknik Elektro di salah satu universitas di Yogyakarta. Latar belakangnya bukan dari keluarga berada — ayahnya seorang montir, ibunya pedagang sayur. Namun semangat belajarnya jauh melampaui keterbatasan itu. Ia sering membawa buku-buku teknik ke bengkel ayahnya, mencoba memahami bagaimana energi bekerja di dunia nyata.

Ide menciptakan pembangkit listrik mikro muncul saat listrik di desanya sering padam. Anak-anak kesulitan belajar, dan banyak warga terpaksa tidur lebih awal karena gelap. Dari situlah tekad Rizky muncul: ia ingin mengubah sungai menjadi sumber energi bagi warganya.

Selama dua bulan, ia merancang dan membangun alat itu sendirian. Modalnya? Hanya Rp500.000 dan keyakinan bahwa sesuatu yang sederhana bisa membawa perubahan besar. Kini, hasil kerjanya menerangi sepuluh rumah di sekitar sungai.

Bagi warga, Rizky bukan hanya mahasiswa teknik — ia simbol harapan. “Kami bangga sekali,” ujar Pak Slamet, warga setempat. “Dulu kami gelap-gelapan, sekarang ada terang dari anak desa sendiri.”

Pihak kampus tempat Rizky belajar pun ikut memberikan dukungan. Dosen pembimbingnya, Ir. Siti Handayani, mengatakan bahwa Rizky adalah contoh mahasiswa yang tidak hanya pandai secara akademik, tetapi juga peduli pada lingkungannya. “Inovasinya sederhana, tapi berdampak nyata,” katanya.

Kini Rizky tengah mengembangkan versi kedua alatnya, dengan daya yang lebih besar agar bisa digunakan untuk seluruh dusun. Ia bermimpi suatu hari nanti desanya mandiri energi tanpa harus bergantung pada listrik dari kota.

“Cahaya itu tidak hanya datang dari lampu,” ujar Rizky di akhir wawancara. “Kadang, cahaya datang dari niat kecil untuk membantu orang lain.”

Related posts

Kampung Warna-Warni Jodipan: Saat Warna Menyapu Duka di Kota Malang

Afifah Afifah

Menelusuri Jejak Spiritual Wali 5: Ziarah dari Sunan Ampel hingga Sunan Bonang di Jawa Timur

Ghinan Nafsi

Musim Tembakau, Pasar Semampir Kembali Ramai Dipadati Warga

Febriyanti Adelia

Leave a Comment