Sastra

Sunyi di Balik Gemerincing Kota

Di sebuah sudut kota yang tak pernah tidur, langkah-langkah manusia bersaing dengan suara mesin dan klakson. Lampu-lampu jalan menatap lelah, menyinari wajah-wajah yang bergegas pulang, seolah waktu sendiri takut terlambat.

Di antara hiruk-pikuk itu, seorang kakek duduk di tepi trotoar, di samping gerobak kopi yang catnya mulai terkelupas. Setiap malam ia menyalakan tungku kecil, merebus air, dan menunggu pelanggan yang kadang datang, kadang hanya lewat tanpa menoleh.

Namanya Pak Jafar, 67 tahun. Dulu ia seorang sopir angkot, sebelum jalur trayeknya digantikan oleh kendaraan berbasis aplikasi. Kini, gelas-gelas kopi di gerobaknya menjadi saksi percakapan sunyi antara dirinya dan waktu.

“Selama masih ada yang haus, aku tak boleh berhenti,” katanya sambil tersenyum, menatap asap kopi yang menari di udara malam.

Kisahnya bukan satu-satunya. Di balik setiap deru kendaraan, selalu ada kehidupan yang berjalan pelan, mereka yang tidak tertulis di papan iklan, tidak muncul di layar kaca, tapi justru menyalakan denyut kota yang sesungguhnya.

Malam kian larut. Hujan mulai turun, perlahan. Pak Jafar menutup gerobaknya dengan terpal lusuh. Besok, ia akan kembali. Dengan api kecil di tungkunya, dan harapan yang tak pernah padam.

Related posts

Rindu Yang Membawaku Pulang

Ayu Puji Cahyani

Suara Sunyi di Balik Senyumku

Bela Dwi Lestari

Menemukan Tenang di Tengah Bising Dunia

Jamilatuz Zahro

Leave a Comment