Pagi itu, linimasa media sosial mendadak ramai. Sebuah potongan tayangan dari salah satu program di Trans7 beredar cepat, diunggah ulang berkali-kali disertai komentar geram. Dalam video berdurasi singkat itu, terdapat dialog yang dianggap sebagian penonton menyudutkan citra pesantren, seolah lembaga pendidikan tersebut identik dengan hal negatif.
Komentar pun bermunculan. “Kenapa pesantren selalu digambarkan seperti itu?”, tulis seorang pengguna. Yang lain menyambung, menyebut bahwa media seharusnya lebih bijak dalam merepresentasikan lembaga pendidikan berbasis agama yang selama ini dikenal melahirkan banyak tokoh intelektual dan ulama.
Tak butuh waktu lama, narasi ini berkembang menjadi perbincangan nasional kecil-kecilan. Banyak yang menilai bahwa tayangan televisi kerap melahirkan stereotip, terutama terhadap pesantren yang sering dianggap kuno, tertutup, atau penuh kekerasan. Sebagian santri dan alumni pesantren pun ikut bersuara, merasa bahwa identitas mereka tidak adil jika hanya dilihat dari potongan narasi yang sensasional.
Pihak Trans7 belum memberikan pernyataan resmi saat sorotan publik semakin tajam. Namun, netizen terus mendorong agar media arus utama melakukan klarifikasi dan evaluasi, bukan hanya demi menjaga nama baik pesantren, tetapi juga agar ruang publik televisi tidak lagi melanggengkan stigma terhadap lembaga pendidikan tradisional.
Di tengah riuh perdebatan itu, satu kalimat berulang kali muncul di kolom komentar:
“Pesantren bukan sekadar latar cerita—ia adalah rumah ilmu, adab, dan sejarah.”