Sastra

Senja di Ujung Kota: Sebuah Renungan Tentang Waktu

Di ujung kota, senja kembali menebar warna jingga ke langit yang mulai redup. Angin sore berhembus pelan, membawa aroma tanah dan daun yang gugur. Dalam keheningan yang perlahan menelan riuhnya siang, waktu seolah berhenti sejenak — memberi ruang bagi siapa pun yang mau merenung.Senja selalu punya cara untuk berbicara tanpa kata. Ia datang dengan keindahan yang tenang, namun di balik itu tersimpan pesan tentang kefanaan. Bahwa segala sesuatu yang terang, pada akhirnya akan meredup; bahwa setiap awal pasti bertemu dengan akhir. Namun dari sanalah kehidupan justru menemukan maknanya.Banyak orang menganggap senja sebagai lambang perpisahan. Tapi sejatinya, ia juga pertanda harapan. Karena di balik tenggelamnya matahari, ada janji tentang fajar yang akan kembali. Hidup pun demikian — penuh perpisahan, namun tak pernah benar-benar kehilangan cahaya.Kita sering terlalu sibuk mengejar hari, hingga lupa menikmati perhentiannya. Padahal, justru di saat-saat hening seperti senja inilah jiwa menemukan ketenangan. Waktu yang berhenti sejenak bukanlah kehilangan, melainkan kesempatan: untuk mengenang, untuk bersyukur, dan untuk memulai lagi dengan hati yang baru.Maka, biarlah senja menjadi guru yang sederhana. Ia tak berkata apa-apa, namun mengajarkan banyak hal — tentang keindahan, tentang kehilangan, dan tentang ikhlas yang lembut seperti cahaya yang perlahan tenggelam di ufuk barat.

Related posts

Sunyi di Balik Gemerincing Kota

Alek Permadani

Kebebasan yang Tak Semanis Mimpi

Na ifa

Malam Terakhir di Bundaran Glaser

Jamilatuz Zahro

Leave a Comment