Sastra

Senyum di Gerbong, Sapaan di Desa

Sudah setahun berlalu sejak terakhir kali aku berkunjung ke rumah pamanku di Bekasi. Liburan kali ini terasa istimewa karena akhirnya aku bisa kembali ke sana setelah sekian lama hanya mendengar kabar lewat telepon.

Perjalananku dimulai dari Probolinggo dengan menaiki kereta ekonomi bersama ibu, kakek, nenek, dan adikku. Suasananya memang tidak senyaman kereta kelas atas, tetapi justru di sanalah aku menemukan kehangatan yang jarang kutemui di perjalanan lain. Di dalam gerbong, beberapa keluarga bercengkerama, saling bercerita, dan tertawa lepas. Aku ikut larut dalam percakapan dengan keluargaku sambil menikmati pemandangan kota demi kota yang berganti di luar jendela.

Sesekali petugas lewat menawarkan dagangan dengan pakaian rapi, sementara anak-anak kecil berlarian di lorong. Salah satunya menarik perhatianku, seorang bocah kecil yang mengintip malu-malu dari balik kursi. Setiap kali aku menoleh, ia tersenyum lalu sembunyi lagi. Aku akhirnya memberinya beberapa cokelat. Ia menerimanya dengan wajah tersipu, sementara keluarganya mengucapkan terima kasih. Sejak itu, perjalanan dua belas jam terasa lebih ringan.

Ketika kereta memasuki Stasiun Bekasi, rasa haru bercampur senang. Di luar stasiun, suasana masih ramai meski malam sudah larut. Penumpang bertebaran, pengemudi ojek sibuk menawarkan jasa, dan pedagang kaki lima menjajakan makanan dengan aroma yang menggoda. Tak lama, pamanku datang menjemput kami. Setelah makan malam sebentar di warung pinggir jalan, kami menuju rumahnya di sebuah desa kecil di pinggiran Bekasi. Di sana kami disambut hangat oleh istri paman dan keluarganya.

Keesokan paginya, aku duduk di teras rumah sambil mengerjakan tugas kuliah daring. Udara desa terasa segar, jauh dari hiruk pikuk kota. Tiba-tiba, suara musik khas Betawi terdengar dari kejauhan. Dua ondel-ondel melintas di depan rumah. Aku spontan keluar, memberi uang, dan berfoto bersama dua sepupuku. Rasanya menyenangkan bisa melihat langsung tradisi yang sebelumnya hanya kulihat lewat layar ponsel.

Beberapa hari kemudian, aku berjalan kaki bersama kakek dan nenek mengelilingi jalan desa. Langit sore berwarna jingga, udara lembut menyentuh kulit. Setiap beberapa langkah, selalu ada warga yang menyapa ramah.“Eh, ini keponakannya Pak Hadi, ya?” tanya seorang bapak sambil tersenyum.Aku hanya mengangguk kecil, masih heran karena hampir semua orang tampak mengenal pamanku. Beberapa bahkan mengajak kami singgah untuk berbincang sejenak. Dari situlah aku tahu, paman adalah sosok yang dihormati dan disegani di desa itu.

Warga di sekitar rumahnya benar-benar ramah. Mereka menyapa dengan tulus, seolah setiap orang adalah bagian dari keluarga besar. Di antara sapaan dan tawa itu, aku merasakan kedamaian yang jarang kutemukan di tempat lain. Desa kecil ini mengajarkan bahwa kebersamaan bisa tumbuh dari hal-hal sederhana seperti sapaan, senyum, dan perhatian.

Hari-hari berlalu begitu cepat. Kami berjalan-jalan, berbagi cerita, berziarah ke makam salah satu ulama setempat, hingga menemani dua sepupuku bermain di taman kecil desa. Sederhana, tetapi hangat.

Namun, perjalanan pulang ternyata tidak semulus yang kukira. Saat kami tiba di Stasiun Surabaya untuk berganti kendaraan menuju Probolinggo, kami harus menunggu mobil tumpangan selama lebih dari dua jam. Ternyata sopirnya terjebak macet. Udara malam terasa lembap, dan rasa lelah mulai menyelimuti kami. Ibu mencoba menenangkan kami sambil sesekali mengobrol ringan agar suasana tidak terlalu tegang.

Ketika akhirnya mobil datang, kami pun segera berangkat. Namun di tengah perjalanan, suasana mendadak mencekam. Mobil yang kami tumpangi hampir tertabrak kendaraan lain karena sopir mengantuk. Kami semua spontan menahan napas, dan ibu dengan suara panik langsung menegur sopir agar berhenti sejenak. Untung saja tidak terjadi apa-apa. Setelah kejadian itu, suasana di dalam mobil menjadi hening. Hanya suara mesin dan desir angin malam yang menemani perjalanan kami pulang.

Saat akhirnya sampai di rumah dengan selamat, rasa lega dan syukur memenuhi hati. Perjalanan ini memberiku banyak pelajaran tentang kesabaran, kebersamaan, dan arti pulang yang sesungguhnya.

Perjalanan ini bukan sekadar tentang mudik. Ini tentang menemukan arti rumah di tempat yang jauh, dan tentang bagaimana sapaan kecil serta pengalaman sederhana dapat meninggalkan kesan yang begitu besar.

Related posts

Bunga di Tengah Badai

Ananda Novalia Putri

Di Balik Luka, Ada Kasih-Nya

Anindya Ghania Safhira

Jomblo Happy: Menemukan Kebahagiaan dalam Kesendirian

Ghinan Nafsi

Leave a Comment