Feature

Syukur yang Dibungkus Daun Pisang

Di pagi yang cerah, suara takbir memang sudah lama berhenti berkumandang. Namun di Desa Kregenan, Kabupaten Probolinggo, aroma santan dan daun pisang yang direbus menandai datangnya hari istimewa: Lontongan. Tradisi ini selalu dirayakan tepat seminggu setelah Hari Raya Idulfitri, atau setiap tanggal 8 Syawal.Sejak subuh, warga sudah tampak sibuk. Para ibu memasak opor ayam dan sayur lodeh, sementara para bapak menyiapkan tempat di musholla untuk menggelar slametan, yaitu doa bersama sebagai wujud rasa syukur setelah sebulan penuh berpuasa.

Tikar digelar rapi, nasi dan lontong disusun di atas nampan, lalu doa pun dilantunkan dengan khidmat.“Slametan ini sudah turun-temurun dari orang tua kami,” tutur Pak Ahmad, tokoh masyarakat Kregenan. “Kami bersyukur masih bisa berkumpul, makan bersama, dan saling berbagi setelah Ramadan.”Warga Desa Kregenan menyebut perayaan ini Lontongan, bukan Lebaran Ketupat seperti di daerah lain. Hal itu karena makanan utamanya bukan ketupat, melainkan lontong — nasi padat yang dibungkus daun pisang. “Sebenarnya sama saja, cuma di sini lebih sering pakai lontong. Jadi orang-orang bilangnya Lontongan,” kata Halimah, salah satu warga sambil tersenyum.

Usai slametan di musholla, suasana desa semakin hidup. Warga mulai melakukan tradisi ter-ater, yaitu berbagi makanan kepada tetangga dan sanak keluarga. Setiap rumah membawa lontong, opor ayam, sambal goreng, atau kolak, lalu mengantarkannya kepada keluarga lain, terutama mereka yang kurang mampu. “Tujuannya biar semua bisa ikut merasakan kebahagiaan Lontongan,” ujar Musliha, warga lainnya.

Menjelang siang, aroma masakan memenuhi udara. Anak-anak berlarian di halaman musholla sambil membawa piring lontong, sementara para ibu saling bertukar hidangan dengan wajah ceria. Tidak ada batasan antara kaya dan miskin, tua dan muda — semuanya duduk bersama menikmati hasil tangan sendiri.Masyarakat biasanya sudah mempersiapkan bahan-bahan beberapa hari sebelumnya. Mereka membeli kebutuhan dari pedagang keliling yang datang ke desa atau mengambil hasil kebun sendiri, seperti daun pisang dan bumbu rempah. Semua dilakukan dengan semangat gotong royong dan kebersamaan.

Kini, di tengah perubahan zaman, Lontongan tetap menjadi momen yang ditunggu-tunggu warga Desa Kregenan. Lebih dari sekadar tradisi kuliner, ia adalah wujud nyata rasa syukur dan kebersamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.Bagi warga Kregenan, Lontongan bukan hanya tentang lontong dan opor ayam, tetapi tentang menjaga silaturahmi, berbagi rezeki, dan mengingat bahwa kebahagiaan sejati lahir dari rasa syukur yang sederhana.

Related posts

Senyum Dua Putri Tukang Rongsokan di Jepara yang Kini Bisa Sekolah Gratis

Nofia Sugist

Raya, Bocah Kecil yang Mengajarkan Arti Kepedulian

Sonia Febrila

Kampung Warna-Warni Jodipan: Saat Warna Menyapu Duka di Kota Malang

Afifah Afifah

Leave a Comment