Opini

“Menulis Bukan Sekadar Tugas Kampus, Tapi Tanda Peradaban”

Di era digital, kemampuan menulis sering dianggap hanya sebagai beban akademik. Padahal, menulis adalah salah satu indikator kemajuan peradaban. Negara-negara dengan budaya literasi kuat terbukti memiliki tingkat berpikir kritis yang lebih tinggi dibanding yang pasif terhadap tulisan.

Mahasiswa seharusnya tidak hanya menulis saat ada tugas kuliah, tetapi melihat tulisan sebagai cara mengolah gagasan. Dengan menulis, seseorang belajar menyusun argumen, memilah fakta, dan menyampaikan pandangan dengan elegan. Opini, berita, hingga cerita non-fiksi bukan sekadar produk media, tetapi bentuk eksistensi intelektual.

Jika kampus ingin menghasilkan lulusan berkualitas, budaya menulis harus ditumbuhkan sejak dini. Media seperti Narasimu.com bisa menjadi jalan tengah: ruang berekspresi, belajar, dan berkarya tanpa tekanan. Menulis bukan karena disuruh, tetapi karena sadar bahwa suara tanpa tulisan mudah hilang ditelan zaman.

Related posts

Seni sebagai Terapi dan Ekspresi diri

Ike Mawar Yuni Arifin

Bahaya TikTok: Antara Hiburan, Propaganda, dan Ancaman Literasi Digital

Intan Faiqotul laili

Jamu Beras Kencur: Warisan Tradisional yang Menyegarkan dari Probolinggo

Dini Dwi Safitri

Leave a Comment

error: Content is protected !!