Dulu, setiap malam disaat ada jadwal majelis, aku dan teman-teman selalu pergi berkumpul di majelis sholawat meskipun jauh atau dekat. Suasana hangat penuh kedamaian selalu menyelimuti setiap pertemuan itu. Kami bernyanyi bersama, melantunkan sholawat dengan suara kompak yang membuat hati terasa lebih tenang dan penuh harapan. Sering kali, hujan turun saat kami sedang asyik di majelis, sehingga kami hujan-hujanan bersama pulang ke rumah, menambah keseruan dan keakraban di antara kami. Dan juga kita dapat mengenal teman-teman majelis lainnya. Momen itu menjadi waktu yang sangat berarti bagi kami. tidak hanya sebagai tempat beribadah tapi juga sebagai ikatan persaudaraan.
Namun, seiring berjalannya waktu, kesibukan masing-masing mulai mengambil alih. Ada yang harus fokus pada pendidikan dan pekerjaan, dan ada yang sibuk dengan keluarga. Pertemuan rutin itu akhirnya terhenti. Rasa rindu sering hadir ketika mengenang saat-saat indah dulu, di mana kami berbagi kebahagiaan dan ketenangan dalam majelis sholawat.
Meski kini jarang berkumpul lagi, kenangan dan rasa rindu pada majelis itu tetap ada. Kami menyadari bahwa meski jarak dan waktu memisahkan, ikatan itu tetap ada, dan suatu saat nanti pasti akan ada kesempatan kembali untuk berkumpul, meneruskan tradisi yang pernah mengisi jiwa kami dengan kedamaian. Hujan-hujanan di majelis bersama tetap menjadi kenangan indah yang kami simpan. Hingga sampai saat ini kenangan dan pengalaman pergi ke majelis sholawat itu tak pernah terlupakan.