Feature

“Kisah Semangat Tiga Mahasiswa Perintis”

Bagi sebagian mahasiswa, media kampus hanyalah tempat membaca pengumuman dan dokumentasi kegiatan. Namun bagi Moh. Afmal Syam, Moh Tuffy, dan Rus Hasan—tiga mahasiswa semester Tiga Tadris Bahasa Indonesia—Narasimu.com adalah ladang belajar, rumah ide, sekaligus ruang perjuangan yang mereka bangun dari nol.

Setiap Selasa dan Kamis sore, selesai kuliah mata kuliah mikroteaching, mereka berjalan sambil bercanda ke ruang kecil di samping perpustakaan kampus. Ruang itu dulunya bekas gudang perlengkapan, namun kini disulap menjadi sekretariat mini. Hanya ada satu meja kayu, dua kursi plastik, dan rak bekas berisi beberapa edisi majalah lama. Di sudut ruangan, ada colokan listrik yang sering longgar, sehingga mereka harus memiringkan charger agar laptop tetap menyala.

Mereka mengaku bahwa tantangan terbesarnya adalah membagi waktu antara skripsi, organisasi, dan pengelolaan media. Namun ia bangga ketika dosen dan mahasiswa mulai menjadikan Narasimu.com sebagai sumber informasi kegiatan kampus. “Rasanya seperti menanam pohon kecil yang suatu hari akan jadi rindang,” ujarnya sambil tersenyum.

Mereka tidak pernah menyebut diri sebagai jurnalis hebat. Mereka hanya yakin bahwa setiap cerita mahasiswa, sekecil apa pun, patut diberi ruang. Tuffy pernah berkata, “Kalau kita tidak merekam kehidupan kampus kita sendiri, siapa lagi? Berita hari ini bisa jadi sejarah besok.”

Kini, perlahan Narasimu.com mulai dikenal. Beberapa dosen mengirim opini, mahasiswa baru mulai bertanya cara menjadi penulis, bahkan lembaga kampus mulai meminta liputan resmi. Ruangan sederhana itu tidak lagi sekadar tempat berkumpul, tetapi simbol awal mimpi besar.

Bagi mereka bertiga, Narasimu.com bukan sekadar website—melainkan perjalanan sunyi yang dijalani dengan tawa, kopi murah, dan keyakinan bahwa tulisan bisa membuat orang merasa hadir dan dihargai.

Related posts

“Rido Bocah Penjual Pentol: Menukar Masa Bermain dengan Tanggung Jawab Hidup”

Zida Kamalia

Sang Jenderal yang Memimpin dari Tandu

Sofita fita

Saat Kitab dan Kampus Menjadi Satu Jalan Hidup

Dewi afifah Zahro

Leave a Comment