Fiksi

Menemukan Kuatku di Balik Jarak

Sejak kecil, Ana tidak pernah jauh dari keluarganya. Setiap hari, ia selalu berada di tengah-tengah mereka — orang tuanya, saudara-saudaranya, dan suasana rumah yang penuh kehangatan. Ana tumbuh dalam lingkungan yang selalu membuatnya merasa aman dan diperhatikan.Namun, ketika tiba saatnya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, hidup Ana mulai berubah. Kampus tempatnya kuliah berjarak cukup jauh dari rumah, dan untuk mencapainya, ia harus menaiki sepeda motor melintasi jalan raya yang cukup ramai. Karena Ana belum terbiasa berkendara di jalan besar, orang tuanya merasa khawatir. Akhirnya, mereka memutuskan bahwa Ana lebih baik tinggal di kos yang berada di sekitar kampus.Itulah pertama kalinya Ana harus jauh dari rumah. Awalnya, ia mencoba meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi ketika malam datang, rasa sepi itu sulit dihindari. Ana sering menangis diam-diam di kamar kos, merindukan suasana rumah, percakapan dengan orang tua, dan tawa keluarga yang biasanya selalu menemaninya.Setiap pagi terasa berbeda — tak ada lagi suara ibu yang memanggil, tak ada lagi aroma sarapan dari dapur, dan tak ada lagi pelukan hangat sebelum berangkat. Semua harus dilakukan sendiri. Kadang ia ingin pulang, tapi Ana tahu bahwa keputusan ini adalah untuk masa depannya.Perlahan, Ana belajar untuk kuat. Ia mulai memahami arti kemandirian, tanggung jawab, dan perjuangan. Rasa rindu itu tetap ada, tapi kini Ana belajar berdamai dengannya. Ia tahu, di balik setiap langkahnya menempuh pendidikan ini, ada doa dan harapan orang tua yang selalu menyertainya dari kejauhan.Kini Ana sadar, jarak bukanlah penghalang kasih sayang, melainkan jembatan yang menguatkan cinta dan semangat. Di balik jarak itu, ia menemukan kuatnya sendiri — kekuatan untuk bertahan, belajar, dan terus melangkah.

Related posts

“Pesan Terakhir dari Ayah”

Zida Kamalia

Di Balik Senyum Laila

Ghinan Nafsi

Pedagang Waktu di Sudut Pasar

Alek Permadani

Leave a Comment