Feature

Dari Guru Menjadi Penerang: Kisah Lahirnya Walisongo Al Adnani

Cahaya di Lereng Krucil

Dari tangan seorang guru muda bernama Zubaidatul Ulum, lahirlah sebuah sekolah sederhana yang kini menjadi cahaya pendidikan di Desa kertosuko, Kecamatan Krucil, Probolinggo. Walisongo Al Adnani berdiri bukan karena fasilitas mewah atau dana besar, melainkan karena tekad seorang guru yang percaya bahwa setiap anak berhak mendapat ilmu, di mana pun mereka berada.

Setiap pagi, suara sepeda motor tua terdengar melintasi jalan berbatu. Kendaraan itu milik Bu Zubaida dan suaminya, yang setia menempuh perjalanan lebih dari sepuluh kilometer demi memastikan anak-anak bisa belajar dengan baik.

Awal berdirinya sekolah sangat sederhana: hanya tiga ruang kelas dengan dinding papan kayu. Saat musim hujan, air sering menetes dari atap. Meski begitu, wajah Bu Zubaida selalu berseri menyambut murid-murid yang datang dengan buku lusuh tapi penuh semangat.

“Beliau selalu bilang ke anak didiknya, sekolah itu jendela dunia. Mungkin sekarang mereka belum paham, tapi suatu hari nanti mereka akan mengerti,” kenang salah satu siswa.

Seiring waktu, kerja keras Bu Zubaida membuahkan hasil. Dari dua gedung kecil, kini berdiri beberapa bangunan permanen yang nyaman bagi murid. Prestasi anak-anak pun muncul: ada yang juara lomba lari tingkat kabupaten, bahkan beberapa melanjutkan studi hingga ke China dan universitas lainnya.

Bu Zubaida bukan hanya guru, tetapi sosok “ibu” bagi murid-muridnya. Ia sabar menghadapi tingkah laku anak-anak yang kadang bandel.

“Kadang kami bikin beliau kesal, tapi beliau tetap tersenyum dan memberi nasihat dengan lembut,” kata salah satu murid.

Orang tua murid, Ibu Nur Hayati, menambahkan:

“Sebelum ada Bu Zubaida, anak-anak kami susah sekolah karena jarak ke kota jauh. Sekarang mereka bisa belajar dekat rumah, bahkan punya cita-cita tinggi. Kami sangat berterima kasih.”

Kepala desa kertosuko, juga memuji:

“Beliau luar biasa. Dengan sabar dan ikhlas, mendidik anak-anak tanpa kenal lelah. Sekolah ini membawa perubahan nyata bagi desa,” ujarnya bangga.

Meski masih muda, semangat Bu Zubaida sudah sekuat pendidik senior. Bersama suaminya, ia terus berinovasi agar anak-anak desa bisa menikmati pendidikan layak.

Baginya, mengajar bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan hati dan perjuangan hidup. Dari desa kecil kertosuko Krucil, cahaya ilmu yang ia nyalakan kini menjadi pelita bagi masa depan anak-anak desa.

Related posts

One Piece: Lebih dari Sekedar Anime, Sebuah Pelayaran tentang Arti Hidup

Moh Imron

Ngopi di Tengah Kota: Ruang Kreatif Anak Muda Surabaya

Jamilatuz Zahro

Menambal Harapan, Merakit Mimpi: Kisah Inspiratif Pemuda Tangerang Bangun Usaha Teknisi Gadget Rumahan

Nofia Sugist

Leave a Comment