Fiksi

Menatap Langit Seperti Menatapmu Tersenyum

Sore itu di desa Krucil, langit tampak cerah setelah hujan semalaman. Awan putih bergerak perlahan dan udara membawa aroma tanah yang baru tersiram air. Aku duduk di bangku kayu depan rumah, menatap langit yang biru lembut dan entah kenapa, pikiranku langsung tertuju kepadamu.Kamu dulu pernah bilang, bahwa langit adalah tempatmu mencari ketenangan. Katamu, “Kalau lagi lelah, lihat saja langit. Di sana selalu ada biru yang menenangkan.” Sejak saat itu, setiap kali aku menatap langit, bayanganmu seolah-olah hadir di sana dengan senyum yang meneduhkan, seperti sinar matahari di sela awan.

Dan, aku masih ingat hari itu, ketika kita duduk di taman, memandangi senja bersama. Matahari perlahan turun di balik pepohonan, meninggalkan warna jingga yang lembut di langit Krucil. “Indah, ya?” Katamu sambil tersenyum kepadaku. Aku hanya mengangguk, padahal di dalam hatiku aku tahu, yang membuat senja itu indah bukan hanya dari langit, tetapi karena ada kamu di bawahnya.

Waktu terus berlalu, tetapi kenangannya tetap tinggal. Sekarang, setiap kali aku menatap langit pagi,siang, atau senja. Aku seperti melihatmu tersenyum di antara awan. Kadang aku tertawa kecil sendiri, mengingat caramu berbicara,tersenyum dan apapun hal-hal sederhana itu: hujan, burung, dan cahaya matahari yang menembus dedaunan.

Mungkin cinta ini tidak semegah cerita di layar kaca, tapi nyata dalam cara yang sunyi. Dia hadir setiap kali aku menatap langit Krucil yang sangat luas, dan setiap kali angin sore menyentuh wajahku, seolah-olah membawa pesan darimu: bahwa meski jauh, senyummu tetap tinggal di sini—di langit,dan di hatiku.

Related posts

Kursi yang Kosong

Putri Syafarista

Menemukan Kuatku di Balik Jarak

Vera Safera

Judul:Alih Fungsi Lahan: Banyak Sawah Kini Berubah Menjadi Perumahan

Febriyanti Adelia

Leave a Comment