Sastra

Pelita di Tengah Hujan

Hujan sore itu turun deras di desa Karangsari. Jalanan becek, atap seng meneteskan air tanpa henti. Namun di sebuah rumah bambu kecil di tepi sawah, cahaya lampu minyak masih menyala. Di sana, seorang gadis bernama Laras (16 tahun) sedang menulis di buku lusuh sambil menahan kantuk.

Laras adalah anak petani. Setiap pagi ia membantu ibunya menyiangi rumput di sawah sebelum berangkat sekolah. Meski hidup sederhana, ia punya mimpi besar: ingin menjadi guru agar anak-anak di desanya bisa terus belajar meski tanpa fasilitas mewah. “Kalau aku jadi guru, aku mau ngajarin pakai papan tulis dari triplek ini aja,” katanya sambil tersenyum pada adiknya yang duduk di sampingnya.

Sekolah Laras jaraknya 5 kilometer dari rumah. Kadang ia berjalan kaki, kadang menumpang truk sayur. Tetapi semangatnya tak pernah surut. Baginya, setiap huruf yang ia pelajari adalah cahaya kecil yang menembus gelapnya keterbatasan. “Bapak selalu bilang, kalau kita mau maju, harus belajar meskipun hujan,” ujarnya pelan.

Beberapa bulan kemudian, Laras terpilih menjadi juara menulis di kabupaten. Tulisan sederhananya tentang mimpi anak desa membuat banyak orang tersentuh. Ia tak percaya ketika namanya diumumkan. Di atas panggung, Laras hanya berkata, “Saya cuma ingin belajar agar bisa mengajar.”

Ketika ia kembali ke rumah malam itu, hujan kembali turun. Tapi kali ini Laras tidak peduli. Ia tahu, di balik hujan, selalu ada pelita kecil yang tak pernah padam seperti mimpinya.

Related posts

Kenangan Majelis Yang Tak Terlupakan

Bela Dwi Lestari

“Suara dari Balik Jendela”

Moh. Afdil Maulidin

Aku, yang Berakhir di Belakang Waktu

Intan Faiqotul laili

Leave a Comment