Opini

Bahaya TikTok: Antara Hiburan, Propaganda, dan Ancaman Literasi Digital

Selamat, TikTok. Pada Agustus 2024 lalu, Indonesia resmi dinobatkan sebagai negara dengan pengguna TikTok terbanyak di dunia, sekaligus mencatat rekor sebagai pengguna paling lama menghabiskan waktu di platform ini melalui perangkat Android. Sebuah “prestasi” yang terdengar manis, namun di balik itu tersimpan pertanyaan serius: apakah kita sedang menuju era kreatif, atau justru terjebak dalam lingkaran pembodohan massal?

Jika kita membuka kolom komentar di TikTok, tak jarang yang muncul bukanlah diskusi sehat, melainkan hujatan, emosi, atau bahkan manipulasi terstruktur. Penelitian menunjukkan, rendahnya tingkat pendidikan berhubungan erat dengan rendahnya pengendalian emosi. Kombinasi ini menciptakan ladang subur bagi propaganda. Satu akun bisa membuat seribu akun palsu, dan dengan mudah menggiring opini publik hanya melalui komentar yang dipoles untuk tampak “populer”.

Fenomena ini menunjukkan bahwa TikTok bukan sekadar media sosial, melainkan mesin distribusi konten tanpa filter kualitas. Model bisnisnya sederhana: konten apa pun bisa viral, entah itu edukatif atau penuh drama murahan. Supply and demand bekerja dengan cara yang brutal—jika mayoritas suka konten tanpa substansi, maka algoritma akan memberinya lebih banyak. Di titik ini, TikTok bukan lagi sekadar hiburan, melainkan potensi ancaman.

Bahaya yang sesungguhnya bukan sekadar “membunuh UMKM”, melainkan mampu menghancurkan tatanan sosial dan politik. TikTok bisa menjadi “king maker”—pencetak presiden atau pemimpin dengan cara yang manipulatif. Strategi klasik divide et impera menemukan wajah barunya dalam bentuk algoritma. Semakin masyarakat terpecah dan semakin rendah literasinya, semakin mudah ia digiring.

Lebih buruk lagi, dampak TikTok merembet ke ranah kesehatan mental. Studi menunjukkan bahwa 60-70% remaja pengguna aktif TikTok mengalami stres, kecemasan, hingga perasaan insecure. Belum lagi efek kognitif: sulit fokus, malas membaca panjang, dan terlalu bergantung pada validasi komentar. Jika dibiarkan, generasi muda kita bisa tumbuh dengan kemampuan berpikir yang meremehkan, mudah terprovokasi, dan kehilangan daya kritis.

Namun, menyalahkan TikTok tentu saja tidak adil. Platform hanyalah alat; yang berbahaya adalah ketika ia dibiarkan tanpa pengawasan, tanpa moderasi akun yang ketat, dan tanpa literasi digital yang memadai. Ibarat pedang bermata dua, TikTok bisa menjadi ruang kreasi dan edukasi, tapi juga bisa menjadi senjata propaganda massal.

Lantas, apa yang bisa kita lakukan?

  • Sebagai pengguna, kita harus lebih selektif. Pilih konten edukatif, batasi waktu, jangan telan mentah-mentah komentar.
  • Sebagai bangsa, kita butuh gerakan literasi digital yang serius, agar masyarakat tak mudah dimanipulasi.
  • Bagi pemerintah dan platform, sudah waktunya memperkuat account moderation—bukan sekadar menyaring konten, tapi memastikan siapa yang benar-benar berada di balik akun.

Akhirnya, pertanyaan yang paling penting bukanlah apakah TikTok berbahaya atau tidak. Pertanyaan sesungguhnya adalah: apakah kita akan terus menjadi objek dari algoritma, atau berani memilih menjadi pengguna yang cerdas dan kritis?

Related posts

Sekutip tentang Sahabat Ku

Gilda Balgis Syafira

Vera Safera

HARI SANTRI 2025 DISAMBUT DENGAN COBAAN YANG MENIMPA PONDOK PESANTREN

Imam Ghozali

Leave a Comment