Feature

Meluruskan Asap: Upaya Dr. Sita Laksmi Menjernihkan Hoaks tentang Rokok

Di tengah maraknya informasi di media sosial, salah satu hal yang sering membuat masyarakat bingung adalah perdebatan soal bahaya rokok. Banyak unggahan viral yang menyebut bahwa perokok pasif lebih berbahaya daripada perokok aktif. Kalimat itu menyebar cepat, diulang-ulang, dan akhirnya dipercaya banyak orang tanpa memahami konteks sebenarnya.

Tak hanya di dunia maya, isu ini juga kerap terdengar dalam percakapan sehari-hari. Di warung kopi, ada yang dengan yakin berkata bahwa perokok pasif lebih rentan terkena penyakit. Di lingkungan keluarga, sering muncul kekhawatiran berlebihan terhadap orang yang hanya terpapar asap. Padahal, pemahaman yang kurang tepat justru bisa menimbulkan salah persepsi baru.

Dalam salah satu episode podcast yang dipandu Ferry Irwandi, Dr. Sita Laksmi hadir untuk memberikan penjelasan ilmiah yang menenangkan. Dengan suara lembut dan penuh keyakinan, ia memaparkan bahwa data medis justru menunjukkan hal yang berbeda: memang benar bahwa perokok pasif memiliki risiko empat kali lebih besar terkena kanker paru-paru dibanding orang yang sama sekali tidak merokok, namun perokok aktif memiliki risiko jauh lebih tinggi hingga tiga belas kali lipat.

Penjelasan itu bukan sekadar angka, melainkan pengingat penting bahwa informasi di dunia digital dan percakapan sehari-hari bisa dengan mudah disalahartikan. Dr. Sita tidak menyalahkan siapa pun; ia justru menekankan pentingnya masyarakat memahami konteks sebelum menarik kesimpulan.

“Banyak orang mendengar sepotong informasi, lalu menganggapnya sebagai kebenaran penuh,” ujarnya di sela percakapan. “Padahal ilmu kesehatan tidak sesederhana itu. Data harus dilihat secara utuh.”

Sikap tenang dan cara penjelasan yang runtut membuat suasana podcast terasa lebih jernih. Bukan hanya soal rokok, tapi tentang bagaimana kita, sebagai masyarakat, perlu lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi.

Pesan yang ingin disampaikan Dr. Sita sederhana namun dalam: literasi kesehatan harus berjalan seiring dengan literasi digital. Karena di era di mana kabar bisa viral dalam hitungan detik, kebenaran sering kali tertinggal baik di layar ponsel maupun di percakapan sehari-hari.

Related posts

Bawang Merah Probolinggo Semakin Diburu, Petani Akui Mutunya Stabil dan Tahan Lama

Jamilatuz Zahro

Sungai yang Terlupakan: Saksi Bisu Ketidakpedulian di Desa Klaseman

Vellya Rahma

One Piece: Lebih dari Sekedar Anime, Sebuah Pelayaran tentang Arti Hidup

Moh Imron

Leave a Comment