Opini

Suara dari Dalam Gua: Makna Kesetiaan Qitmir bagi Manusia Zaman Kini

Dalam sejarah Islam, ada satu kisah yang abadi tentang tujuh pemuda beriman yang bersembunyi di dalam gua demi mempertahankan keyakinan mereka kepada Allah. Kisah itu dikenal dengan nama Ashabul Kahfi, sebagaimana diabadikan dalam Surah Al-Kahfi ayat 9–26. Namun, di balik kisah para pemuda tersebut, ada satu makhluk yang sering dilupakan: seekor anjing bernama Qitmir.

Qitmir bukanlah tokoh utama dalam kisah itu, tetapi namanya disebut oleh banyak mufasir sebagai simbol kesetiaan dan ketulusan iman. Ia bukan nabi, bukan manusia, bahkan bukan makhluk yang dipandang mulia oleh kebanyakan orang pada masa itu. Namun Allah mengabadikan keberadaannya bersama para hamba pilihan-Nya.

Ketika tujuh pemuda itu melarikan diri ke sebuah gua untuk menyelamatkan iman mereka dari kekuasaan yang zalim, Qitmir mengikuti mereka tanpa diminta. Ia tidak memiliki ilmu atau ucapan, tetapi memiliki insting cinta dan kesetiaan kepada kebenaran. Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa Qitmir terletak di pintu gua, menjaga para pemuda itu seolah memahami bahwa dia adalah melindungi orang-orang saleh.

Berabad-abad kemudian, kisah Qitmir masih menjadi bahan renungan bagi umat manusia. Di era modern, ketika kesetiaan sering tergantikan oleh kepentingan, Qitmir mengajarkan bahwa pengabdian tulus tak memerlukan pujian atau posisi tinggi. Ia membuktikan bahwa keikhlasan adalah bahasa universal yang bisa dimengerti oleh semua makhluk.

Nabi Muhammad SAW sendiri menyebut hewan dengan penuh kasih. Dalam hadis, beliau bersabda bahwa “Barang siapa yang berbuat baik kepada makhluk hidup, maka Allah akan berbuat baik kepadanya.” (HR.Bukhari). Maka, kisah Qitmir bukan sekedar legenda masa lalu, melainkan pesan hidup: bahwa setiap makhluk yang tulus kepada kebenaran akan dimuliakan oleh Tuhan.

Dalam dunia yang serba cepat dan penuh ambisi ini, barangkali manusia perlu sejenak belajar dari seekor anjing di depan gua tentang arti menjaga, tentang diam yang penuh makna, dan tentang cinta kepada Allah yang tak bersyarat.

Related posts

Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah — Potret Luka dan Cinta dalam Diam

Bahriatil Ilmi

Pohon tumbang ganggu akses jalan di desa Prasi

Siti Masruroh

Bahaya TikTok: Antara Hiburan, Propaganda, dan Ancaman Literasi Digital

Intan Faiqotul laili

Leave a Comment