Feature

Raya, Bocah Kecil yang Mengajarkan Arti Kepedulian

Kabut tipis masih menggantung di atas sawah Desa Cianaga, Sukabumi, ketika seorang ibu muda duduk termenung di depan rumah bambu. Di pangkuannya, selembar foto kecil seorang anak tersenyum polos, memegang bola plastik yang sudah kempis. Namanya Raya, empat tahun, bocah yang kisahnya mengguncang hati jutaan orang di Indonesia.

Beberapa minggu lalu, Raya masih berlari-lari di halaman rumahnya yang becek, bermain tanah tanpa alas kaki, tertawa tanpa tahu bahwa di dalam tubuh mungilnya sedang bersembunyi musuh yang tak terlihat: cacing gelang. Awalnya ia hanya tampak lesu, batuk, dan perutnya membuncit. Orang tuanya mengira itu sakit biasa. Tapi hari demi hari, tubuhnya melemah, dan dari hidung kecilnya, cacing-cacing mulai keluar hidup-hidup.

“Waktu itu saya panik,” tutur sang ibu, matanya berkaca-kaca. “Saya bawa ke rumah sakit, tapi kami tak punya BPJS. Jadi sempat terlambat penanganan.”
Raya akhirnya dilarikan ke RSUD R. Syamsudin, Sukabumi. Di sana, tim dokter mendapati infeksi parah akibat cacingan kronis yang menyerang organ pencernaan dan menyebar ke seluruh tubuhnya. Meski sudah berjuang keras, nyawanya tak tertolong.

Kabar tentang kematian Raya menyebar cepat di media sosial. Foto rumah sederhana, tanah berlumpur, dan cerita tentang cacing yang keluar dari tubuhnya menjadi simbol kemiskinan dan kurangnya kesadaran sanitasi di pedesaan. Banyak orang meneteskan air mata, tapi juga marah — bagaimana mungkin di abad ini masih ada anak yang meninggal karena cacingan?

Pemerintah daerah dan Dinas Kesehatan kemudian turun tangan. Mereka menemukan bahwa lingkungan tempat Raya tinggal tidak memiliki sanitasi layak; anak-anak sering bermain di tanah tanpa alas kaki, dan air bersih sulit didapat. Kasus Raya akhirnya membuka mata banyak orang: penyakit yang dianggap sepele bisa berujung maut bila diabaikan.

Di tengah duka itu, lahir gerakan kecil dari para relawan Sukabumi. Mereka datang ke kampung Raya, membawa obat cacing, sabun, dan poster edukasi. “Kami tak mau ada Raya lain,” kata salah satu relawan, Siti Hanifah, yang kini rutin mengajar anak-anak tentang kebersihan.

Kini, foto kecil Raya masih tergantung di dinding rumahnya. Ibunya tak lagi menangis seperti dulu, tapi setiap kali melihat gambar itu, ia berbisik pelan,
“Raya sudah pergi… tapi dia mengingatkan kami semua bahwa hidup sehat itu hak setiap anak.”

Related posts

Kegembiraan bermain wahana di BNS malang

Ike Mawar Yuni Arifin

“Kisah Semangat Tiga Mahasiswa Perintis”

Moh. Afdil Maulidin

Banjir Menguji Ketahanan Warga Bali

Siti Masruroh

Leave a Comment