Tahun 2025, di balik kabut tipis yang menyelimuti pegunungan Jayawijaya, suara langkah kecil terdengar dari kejauhan. Beberapa anak berjalan beriringan di jalan tanah yang becek, menenteng tas lusuh di pundak. Mereka adalah siswa SMP Negeri 3 Wamena, anak-anak dari Kabupaten Yahukimo yang rela berjalan kaki selama seminggu demi bisa menempuh pendidikan.
Perjalanan panjang itu bukan sekadar perjalanan menuju sekolah, melainkan perjuangan hidup. Dalam seminggu perjalanan, mereka harus melewati hutan lebat, menyeberangi sungai, dan tidur di bawah rindang pepohonan. Tidak ada kendaraan, tidak ada jalan beraspal hanya tekad dan semangat belajar yang menuntun langkah mereka.
Setibanya di Wamena, mereka tidak langsung pulang seperti anak-anak lain. Mereka membangun asrama sendiri, sederhana, berbentuk Honai rumah adat khas Papua beratap jerami dan berdinding kayu. Di sanalah mereka tinggal, belajar, dan bertahan hidup. “Itu anak-anak dari Yahukimo, mereka berjalan kaki satu minggu, tidur di hutan. Tapi mereka begitu antusias untuk mengenyam pendidikan di sini,” tutur Kepala SMP Negeri 3 Wamena, Ansgar Blasius Biru, S.Pd., M.Pd., dengan mata yang tampak berkaca-kaca.
Kehidupan di asrama Honai jauh dari kata layak. Anak-anak harus hidup mandiri. Tidak ada dapur besar, tidak ada kantin sekolah. Mereka memasak bersama, bergantian menanak nasi dengan beras seadanya. Ada yang harus narik becak di kota, ada pula yang berkebun sekadar untuk membeli bahan makanan. Dalam satu Honai, bisa ada 15 hingga 20 anak yang tinggal bersama. Mereka bergiliran mencari uang, lalu makan bersama dari hasil jerih payah hari itu.
Kami bergiliran. Hari ini satu kelompok narik becak, besok kelompok lain. Uangnya dipakai beli beras, lalu makan bersama,” cerita Blasius. Meski hidup serba terbatas, mereka tidak pernah menyerah. Di antara letih dan peluh, masih ada tawa dan semangat di wajah-wajah muda itu semangat untuk terus belajar dan mengubah nasib.
Namun perjuangan mereka tak selalu mudah. Suatu waktu, asrama Honai yang mereka bangun terbakar. Pakaian, buku, dan peralatan sekolah ikut hangus. Tapi guru dan pihak sekolah tak tinggal diam. Mereka bergotong royong, mengumpulkan bantuan pakaian layak pakai, buku, tas, hingga seragam sekolah. “Kami dari sekolah coba memberi sumbangan, membangun rasa solidaritas. Anak-anak itu luar biasa tabah,” kata Blasius lirih.
Kini, ia berharap pemerintah memberikan perhatian lebih bagi sekolah-sekolah di pedalaman Papua. Selain ruang kelas yang terbatas dan kekurangan guru, kebutuhan utama mereka adalah asrama layak bagi siswa yang berasal dari daerah terpencil. Tanpa asrama, banyak anak yang akhirnya berhenti sekolah karena jarak dan biaya.
Namun di tengah segala keterbatasan itu, Blasius tetap optimis. Ia percaya, jika anak-anak ini terus diberi kesempatan dan dukungan, mereka akan tumbuh menjadi generasi Papua yang tangguh dan berpendidikan. “Saya yakin, pasti ada peningkatan sumber daya mereka, kualitas pendidikan untuk mereka,” ujarnya penuh keyakinan.
Langit Wamena sore itu berwarna jingga. Di depan Honai kecil yang mereka bangun sendiri, anak-anak itu duduk bersama, menikmati nasi hangat yang dimasak bergotong royong. Di tengah segala kesederhanaan, ada kebahagiaan yang tulus kebahagiaan karena mereka tahu, langkah panjang mereka menuju sekolah bukan sekadar perjalanan, tapi sebuah bukti cinta terhadap pendidikan.