Probolinggo, Jawa Timur.
Di tengah pesatnya perkembangan zaman, Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, yang terletak di Desa Karangbong, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, tetap berdiri teguh sebagai salah satu pusat pendidikan Islam tertua dan terbesar di Indonesia.
Didirikan pada tahun 1839 oleh Syekh Zainal Abidin, pesantren ini telah menjadi tempat menimba ilmu bagi puluhan ribu santri dari berbagai daerah di Nusantara. Kini, pesantren ini diasuh oleh keturunan pendirinya, dan telah berkembang menjadi kompleks pendidikan terpadu yang mencakup tingkat Madrasah, SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi.
Pesantren Genggong dikenal luas karena tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga ilmu pengetahuan umum dan keterampilan hidup. Pendekatan pendidikan yang inklusif dan modern menjadikan pesantren ini salah satu tujuan utama para orang tua yang ingin anaknya mendapat pendidikan agama dan umum secara seimbang.
KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah, pengasuh pesantren saat ini, menegaskan pentingnya peran pesantren dalam membentuk generasi berakhlak mulia. “Kami tidak hanya mencetak santri yang bisa membaca kitab kuning, tetapi juga santri yang siap bersaing di dunia global tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam,” ujarnya dalam acara Haul Akbar tahun ini.
Salah satu keunikan dari Pesantren Genggong adalah keberadaan “Majelis Sholawat Genggong”, yang rutin digelar setiap malam Jumat dan dihadiri ribuan jamaah dari berbagai daerah. Majelis ini telah menjadi ikon spiritualitas masyarakat Probolinggo.
Tak hanya itu, pesantren ini juga aktif dalam kegiatan sosial dan dakwah. Saat pandemi melanda, Pesantren Genggong menjadi pelopor gerakan “Santri Tangguh” dengan menyediakan dapur umum, layanan kesehatan gratis, dan edukasi protokol kesehatan bagi masyarakat sekitar.
Dengan sejarah panjang dan kontribusi besar di bidang pendidikan dan sosial, Pesantren Genggong tidak hanya menjadi kebanggaan Probolinggo, tetapi juga simbol ketahanan pesantren dalam menghadapi dinamika zaman.