Laila baru berumur tujuh belas tahun ketika dunia menuntutnya menjadi orang dewasa. Sejak ayahnya pergi tanpa kabar dan ibunya jatuh sakit, tanggung jawab hidup berpindah ke pundaknya yang kecil. Ia bangun sebelum matahari sempat tersenyum, menyapu lantai warung kecil peninggalan ayahnya, menyiapkan dagangan, lalu berangkat sekolah dengan seragam yang mulai pudar warnanya.
Di sekolah, teman-temannya sering memandangnya aneh bagaimana mungkin gadis yang selalu ceria itu membawa beban sebesar itu? Laila selalu tersenyum, bukan karena bahagia, tapi karena tak punya waktu untuk bersedih. Ia tahu, jika ia berhenti sejenak untuk menangis, segalanya bisa runtuh.
Malam adalah saat ia paling jujur dengan dirinya. Ketika ibunya terlelap, Laila duduk di depan jendela, menatap langit yang penuh bintang. Kadang ia berbisik pelan, “Aku capek, Tuhan…” tapi detik berikutnya, ia kembali menarik napas panjang dan menghapus air matanya. Esok hari harus tetap dijalani.
Kekuatan bukanlah sesuatu yang ia pilih melainkan sesuatu yang dunia paksa untuk ia miliki. Dan meski tubuhnya sering lelah, hatinya tetap menyala, karena di balik semua luka, Laila percaya bahwa setiap badai pasti membawa pelangi, bahkan jika pelangi itu hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang tetap bertahan.