Senja itu datang perlahan, mewarnai langit dengan semburat jingga dan merah lembayung yang hangat. Di balik cakrawala, awan-awan pun seolah berbisik, membawa cerita-cerita lama yang terlupakan oleh waktu.
Senja mulai menyelimuti langit dengan warna oranye keemasan. Dina duduk di pinggir pantai memandang langit yang berpendar hangat. Senja kali ini terasa berbeda, karena ia dibawa oleh angin kenangan tentang sahabat terbaiknya, Putri.
Dulu, mereka selalu menunggu waktu senja untuk bermain bersama, melemparkan tawa dan cerita ringan sambil menyusuri jalan setapak berbatu. Dalam setiap detik cahaya senja yang memudar, Dina teringat bagaimana Putri pernah menguatkannya saat hari-hari terasa berat, dan bagaimana mereka berjanji akan selalu bersama meski apapun yang terjadi.
Angin membawa bisikan dedaunan, seakan melantunkan kembali kata-kata sahabat yang tak pernah hilang dari ingatan. Senja bukan hanya pergantian waktu, tapi jembatan yang menghubungkan masa kini dengan kenangan indah yang membuat Dina tersenyum dan merasa tak pernah sendiri.
Saat matahari akhirnya tenggelam,Dina berdiri, menatap langit yang semakin gelap, dan berbisik dalam hati, “Terima kasih sahabat, kau selalu ada dalam senja hidupku.”