Feature

Blok Kecil Seharga Rp. 3.000 yang Mengubah Kantin Sekolah Menjadi Pabrik Kreativitas Anak SD

Di bawah pohon mangga rindang di halaman SD N Klaseman, istirahat pagi berubah jadi pesta kecil setiap hari. Anak-anak kelas 1-6 berdesak-desakan di depan kios kantin, mata mereka tertuju pada tumpukan kemasan Lego mini berlabel “Rp 3.000”. Bukan cokelat atau permen karet yang mereka incar, tapi set Lego sederhana yang bisa disusun jadi apa saja. “Aku pilih yang warna kuning,” seru Fathir, bocah 8 tahun dengan seragam putih merah yang sudah kusut karena kegembiraan. Di sekolah-sekolah seperti ini, koleksi Lego mini bukan tren sementara—ini revolusi kecil yang membangkitkan imajinasi anak SD di tengah hiruk-pikuk kehidupan urban. Lego mini hadir dengan 3-6 blok berkualitas, lengkap instruksi dasar tapi bebas kreasi. Harga Rp 3.000 sengaja dibuat ramah kantong, membuatnya laris manis di kantin sekolah negeri maupun swasta. Pak Yon, pengelola kantin SD N Klaseman mengaku stok cepat habis. “Anak-anak pintar dalam merakit: ‘Pak, aku beli lagi. Yang kemarin sudah aku rakit!’ Penjualan meningkat sejak kami tambah Lego ini. Mereka kreatif, nggak boros beli junk food yang ga sehat juga,” ceritanya.

Tapi di balik tawa dan blok warna-warni, ada pelajaran hidup yang dalam. Untuk anak seperti Fathir (8 tahun, kelas 2), koleksi set Lego-nya—dibeli dari harga Rp 3.000—jadi terapi dalam membatasi penggunaan gadget. “Semenjak ada Lego, aku jadi lebih suka merakit Lego daripada main HP,” katanya, sambil memegang set “tank” favoritnya. Orang tua seperti Ibu Luluk (Ibu Fathir) ikut bangga: “Anak lebih kreatif semenjak ada Lego, dia belajar kesabaran dalam merakit lego.”

Ketika bel istirahat berbunyi, Fathir dan teman-temannya berlari ke kelas, tapi koleksi Lego mereka tetap “hidup” di tas sekolah. Rp 3.000 ini bukan sekadar transaksi kantin; itu benih inovasi yang ditanam di hati anak SD. Di era di mana mimpi sering terhimpit layar, blok kecil ini ingatkan: kreativitas tak butuh mahal, cukup satu langkah hemat dari kantin sekolah. Siapa bilang masa depan tak bisa dibangun dari receh?

Related posts

Sungai yang Terlupakan: Saksi Bisu Ketidakpedulian di Desa Klaseman

Vellya Rahma

Meluruskan Asap: Upaya Dr. Sita Laksmi Menjernihkan Hoaks tentang Rokok

Moh Juaeni Hisbullah

Langkah Tak Terlihat di Pegunungan Arfak

Na ifa

Leave a Comment