Sudah hampir empat tahun sejak Spider-Man: No Way Home dirilis pada Desember 2021, tapi gaungnya masih terasa hingga kini. Film ini bukan sekadar salah satu produksi Marvel yang sukses besar di box office, melainkan juga momen bersejarah dalam perfilman superhero, menyatukan tiga generasi Spider-Man dalam satu layar. Banyak penonton yang hingga sekarang masih menyebutnya sebagai pengalaman emosional paling kuat dalam perjalanan Spider-Man di layar lebar.
Film ini melanjutkan kisah Peter Parker (Tom Holland) setelah identitasnya terbongkar oleh Mysterio. Alih-alih hidup tenang, Peter justru terjebak dalam kekacauan publik, hingga akhirnya meminta bantuan Doctor Strange untuk menghapus ingatan dunia. Sayangnya, mantra itu gagal dan membuka pintu multiverse, menghadirkan kembali villain-villain legendaris seperti Green Goblin, Doctor Octopus, Electro, Sandman, dan Lizard.
Namun, daya tarik utama film ini adalah kejutan besar yaitu hadirnya Tobey Maguire dan Andrew Garfield, dua Spider-Man dari semesta berbeda. Pertemuan mereka dengan Peter versi Tom Holland tidak hanya menjadi ajang nostalgia, tetapi juga wadah penyatuan cerita, seakan menegaskan bahwa setiap Spider-Man punya luka, tanggung jawab, dan perjalanan yang saling melengkapi.Di balik aksi spektakuler, No Way Home adalah kisah kedewasaan dan kehilangan. Penonton menyaksikan bagaimana Peter harus merelakan Aunt May, sosok yang selama ini menjadi fondasi moralnya. Kalimat legendaris “With great power comes great responsibility” kembali terdengar, kali ini sebagai titik balik perubahan terbesar bagi Peter versi Tom Holland.
Bagi banyak orang, momen itu begitu menyentuh karena menghadirkan rasa kehilangan yang nyata. Peter bukan lagi sekadar remaja yang ingin hidup normal dengan MJ dan Ned. Ia harus menerima kenyataan bahwa pengorbanan adalah bagian tak bisa dihindari dari tanggung jawabnya sebagai Spider-Man. Hingga kini, adegan ketika ia memilih membuat MJ dan Ned melupakannya sering disebut sebagai salah satu keputusan paling pahit sekaligus heroik dalam sejarah MCU.
Melihat kembali di tahun 2025, Spider-Man: No Way Home tetap berdiri sebagai salah satu film superhero paling berkesan. Ia bukan hanya pesta multiverse penuh fan service, melainkan juga perjalanan emosional seorang anak muda yang dipaksa menjadi dewasa. Film ini mengingatkan bahwa menjadi pahlawan bukan soal sorak sorai penonton atau pengakuan dunia, melainkan keberanian untuk berkorban demi orang lain, bahkan ketika itu berarti harus berjalan sendirian.
No Way Home meninggalkan warisan, bahwa Spider-Man, siapapun versinya, selalu adalah sosok yang dekat dengan kita yaitu rapuh, penuh keraguan, tetapi selalu memilih untuk bangkit.